Gerakan masyarakat di Indonesia sangat diwarnai dengan peran golongan menengah yang dominan, formasi kelas yang longgar serta tingkat diferensiasi yang rendah pada basis massa gerakan. Sementara gerakan mahasiswa membatasi diri pada lingkup lokal, LSM semakin diharapkan dapat berperan sebagai juru bicara untuk mengartikulasikan kepentingan rakyat. Namun semua hanya gerakan pinggiran?
JIKA gerakan masyarakat bisa didefinisikan sebagai reaksi kolektif atas keadaan yang dirasakan tidak adil1, maka gerakan demikian memang memiliki tradisi yang panjang dalam sejarah kita. Orang bahkan menganggap tradisi ini sudah terlihat sejak adanya aksi pepe atau menjemur diri di depan istana sultan untuk memohon keadilan. Juga migrasi bersama untuk menghindari tekanan atau penindasan penguasa setempat merupakan gerakan yang lumrah di Jawa, tentu saja ketika penduduk masih jarang, dan jumlah penduduk (cacah) masih menjadi semacam ukuran yurisdiksi kekuasaan lokal.
Gerakan mesianis seperti gerakan ratu adil yang sudah menjadi legenda itu juga memiliki tradisi yang panjang; terutama setelah merosotnya kekuasaan para raja tradisional dan makin merasuknya kuasa kolonial di abad ke sembilan belas.2 Gerakan yang disebut terakhir ini sering dianggap sebagai reaksi terhadap penghisapan kolonial yang mulai terasa langsung dalam bentuk penguasaan tanah untuk perkebunan, pajak, kerja paksa, dan kebengisan kolonial lainnya. Seperti kita tahu, hampir semua gerakan itu ditumpas secara militer.
* Artikel ini adalah edisi yang telah direvisi di sebuah makalah yang disajikan pada pertemuan University of the United Nations (UNU) tentang Southeast Asian Perspectives di Penang, Oktober 1985.
1 Definisi ini sedikit dimodifikasikan dari Landsberger, dalam pengantarnya untuk Rural Protest: Peasant Movements and Social Change, The Macmillan Press. Terjemahan pilihan oleh Aswab Mahasin diterbitkan dalam Pergolakan Petani dan Perubahan Sosial, Rajawali-YIIS, 1981
2 Lihat Sartono Kartodirdjo, Gerakan Protes di Pedesaan Jawa, Oxford University Press, 1973. Juga Onghokham, “Penelitian Sumber-sumber Gerakan Mesianis”, Prisma, No. 1, Januari 1977, sebagai interpretasi tandingan.