Demokrasi di Indonesia pasca-reformasi mengalami kemandekan ditandai oleh munculnya pasca-klientelisme; bentuk politik baru yang menggabungkan gaya populis dan transformasi praktik klientelisme. Pasca-klientelisme tampil ketika tuntutan-tuntutan masyarakat kian sulit terpenuhi secara kelembagaan. Tuntutan tersebut saling menjalin hubungan solidaritas dengan harapan mengkristal menjadi perlawanan bersama. Argumentasi itu mengandaikan antagonisme antara kekuatan pro-perubahan dengan kekuatan antiperubahan.
Kata Kunci: demokrasi, gaya populis, hegemoni, kesejahteraan, rantai ekuivalensi