Wawancara dengan Selo Soemardjan

DI tengah cepatnya arus perubahan dan dinamika masyarakat Indonesia belakangan ini, banyak kalangan menilai, ilmu-ilmu sosial ternyata kurang mampu memberikan penjelasan dan mencarikan jawaban terhadap persoalan-persoalan masyarakat. Susunan masyarakat Indonesia kini semakin berlapis-lapis dan persoalannya pun bertambah kompleks mengikuti perkembangan dinamika internal dan pengaruh yang tak terelakkan akibat perubahan di dunia. Perkembangan teknologi, misalnya, maju begitu pesat, sedangkan perkembangan ilmu sosial pada umumnya dinilai bergerak lamban. Begitu lambatnya sehingga orang-orang berpendapat ilmu sosial di Indonesia mandeg, atau tertinggal daripada ilmu-ilmu lainnya. Apakah betul demikian?
Untuk menjawab pertanyaan ini dan persoalan lain di sekitar ilmu sosial di Indonesia, Prof. Dr. Selo Soemardjan berusaha memberikan jawabannya. Bagaimana awal masuk, perkembangan, dan kendala perkembangan ilmu sosial tersebut diuraikannya secara gamblang dan blak-blakan. Tim peliput Prisma yaitu: Paul J. Litaay, E. Dwi Arya Wisesa dan Paulus Widiyanto, berturut-turut melakukan wawancara dengan “Begawan” Ilmu Sosial ini di Jakarta. Berikut, wawancara Prisma (P) dengan Selo Soemardjan (SS) mengenai ilmu sosial pada umumnya dan sosiologi pada khususnya; diungkapkan pula latar belakang dan riwayat hidupnya kenapa dia memilih studi ilmu sosial di luar negeri ketika berusia 41 tahun. Redaksi
MEMBICARAKAN perkembangan sosiologi di Indonesia maka kita harus menengok ke masa lahirnya ilmu itu sejak dua abad yang silam. Ilmu sosial, khususnya sosiologi, lahir dari ilmu filsafat di Eropa. Ilmu ini terus menerus bergumul mencari hakekat manusia dan keberadaannya. Kemudian ilmu sosial berkembang ke negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat. Perkembangan sosiologi di Eropa, termasuk Belanda, Jerman, dan Perancis, lebih menekankan teori-teori. Di sana lahir sejumlah teori klasik yang mendalam sekali semacam teori Max Weber. Semula ilmuwan sosial di Eropa mempelajari sosiologi melalui buku-buku, menyusun disertasi, dan menjadikannya sebuah buku. Buku-buku ini dijadikan referensi oleh ilmuwan berikutnya dan diolah menjadi kajian baru. Begitu seterusnya. Karena cara pendidikannya lebih berakar pada “tradisi” berpikir maka perkembangan sosiologi di Eropa pada waktu itu menjurus pada pergulatan teoretis.
Sebaliknya, tradisi Amerika Serikat lebih menekankan penerapan sosiologi untuk melihat persoalan-persoalan masyarakat, apalagi kemudian ilmu sosial diabdikan bagi kepentingan ekonomi. Aliran pemikiran ini senantiasa mencari pembuktian obyektif melalui serangkaian penelitian ilmiah. Bila keadaan ekonomi berubah, ilmuwan sosial di Amerika Serikat kembali melakukan penelitian untuk mendapatkan fakta-fakta baru. Karena itu sedikit sekali teori klasik yang dilahirkan oleh ilmuwan sosial Amerika Serikat. Paling-paling hanya teori dari Talcott Parson yang menonjol. Ilmuwan Amerika menganggapnya sebagai seorang ilmuwan sosial yang berhasil menyusun teori sosiologi tanpa pernah melakukan riset lapangan.
Di Eropa pada awalnya, perkembangan ilmu-ilmu sosial berpijak pada “ilmu yang dikembangkan,” sedangkan di Amerika Serikat bertumpu pada “ilmu yang diterapkan.” Namun setelah Perang Dunia II, dan Amerika Serikat tampil sebagai negara adikuasa, tradisi keilmuan di Eropa mulai bergeser karena dipengaruhi oleh tradisi keilmuan Amerika, terutama setelah Amerika Serikat berperan besar dalam pembangunan kembali kehidupan masyarakat di Eropa. Kiblat ilmuwan sosial Eropa sekarang bahkan telah tertuju pada tradisi keilmuan Amerika.
Di Indonesia, banyak ilmuwan sosial mempunyai latar belakang pendidikan, baik dari Eropa maupun Amerika Serikat. Mereka membawa tradisi belajar dan berpikir masing-masing perguruan tinggi dan mengajarkannya di lingkungan perguruan tinggi Indonesia. Perkembangan sosiologi di Indonesia tidak lepas dari kedua aliran pemikiran ini. Meskipun cara-cara “memperlakukan” ilmu, baik yang dikembangkan maupun yang diterapkan, tetap berguna, namun ilmuwan Indonesia cenderung berkiblat ke pola pikir Amerika, seperti halnya pengalaman ilmuwan sosial Eropa.
Namun, sekarang perkembangan sosiologi di Indonesia tetap saja tersendat-sendat karena beberapa faktor antara lain terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan. Karya-karya ilmiah tulisan ilmuwan Indonesia yang bermutu sangat sedikit jumlahnya, dan koleksi perpustakaan pun amat terbatas. Rangsangan bagi ilmuwan Indonesia untuk menulis buku atau karya ilmiah lain tidak memadai. Di sini mungkin akan muncul sikap pro dan kontra. Banyak ilmuwan sosial akan berkelit. Namun yang pasti, tradisi dunia akademis di Indonesia terutama budaya menulis buku kurang dipupuk.
Di perguruan tinggi luar negeri, misalnya, terdapat liburan sabbatical bagi pengajar senior selama satu tahun untuk menyelesaikan sebuah buku, tanpa dibebani lagi kewajiban memberikan kuliah dan kegiatan administratif. Di Indonesia, liburan khusus semacam ini tidak dikenal. Kekurangan staf pengajar yang bermutu di perguruan tinggi merupakan alasan lain kenapa belum mungkin diberikan waktu luang bagi mereka untuk menelurkan tulisan ilmiah. Dosen-dosen di Indonesia tampaknya terlalu disibukkan dengan kegiatan mengajar dan pekerjaan administratif.
Selo Soemardjan, peletak dasar Sosiologi di Indonesia, secara terbuka mengakui dirinya adalah produk tradisi keilmuan Amerika. Selain aktif melakukan penelitian, dia juga menulis buku-buku ilmiah. Tentang hambatan perkembangan ilmu sosial di Indonesia doktor sosiologi lulusan Cornell University (1959) ini menyampaikan pendapatnya.
Dari Yogyakarta sampai Ithaca
SOEMARDJAN tipikal putera Yogyakarta asli. Dia lahir dari lingkungan keluarga abdi dalem Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat. Ayahnya, Raden Ngabehi Sastrodjemiko, bekerja sebagai juru tulis, sedangkan kakeknya, Kanjeng Raden Tumenggung Padmonegoro, berdinas sebagai pejabat tinggi di kantor Pemerintah Pusat Kesultanan Yogyakarta. Soemardjan menjadi yatim tatkala berusia tiga tahun, selanjutnya jalan hidup dan pendidikannya diarahkan dan menjadi tanggungjawab kakeknya. Soemardjan, yang lahir tepat pukul 23:00, Minggu Pahing, 23 Mei 1915, tumbuh dan berkembang lewat tem-paan keras kakeknya, serta wajib mengikuti tradisi keluarga: putera tertua harus mengabdi Sri Sultan.
Kakeknya ternyata berpikiran maju dan menyiapkan kualitas diri Soemardjan, baik moral maupun intelektualitasnya, agar kelak mampu bekerja sebagai pamong praja di Kesultanan Yogyakarta. Sejak usia 6 tahun Soemardjan disekolahkan di Hollandsch Javaansche Schoool met den Bijbel di Yogyakarta dan memperoleh kecakapan pengetahuan umum. Di sekolah dasar ini, dia menyerap dan menguasai bahasa Belanda dengan baik. Penguasaan bahasa ini memungkinkannya meningkatkan pengetahuan dan wawasannya dengan membaca novel dan buku-buku lainnya yang diterbitkan dalam bahasa Belanda. Selain itu Soemardjan pun memperdalam keyakinan spiritualnya dengan mengikuti pengajian di Kauman, Yogyakarta.
Sebenarnya Soemardjan ingin melanjutkan pendidikan di sekolah umum setelah tamat sekolah dasar pada tahun 1928. Memang dia diterima sebagai siswa di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) selama 3 bulan namun “menyerah” setelah kakeknya memindahkan Soemardjan ke sekolah yang mengajarkan pengetahuan kepamongprajaan. Pada usia 13 tahun, Soemardjan terpaksa berpisah dengan keluarganya, masuk sekolah CIBA (Candidaat Inlandsche Bestuurs Ambtrenaren) di Madiun. Di kota ini remaja Soemardjan hanya tinggal 1 tahun, kemudian kembali ke kota kelahirannya dan merampungkan pendidikannya di CIBA Yogyakarta.
Tekad keras Soemardjan untuk memasuki sekolah umum tetap menyala, meskipun dia tamatan sekolah calon pamong praja. Dia mendaftarkan diri dan diterima di AMS (Algemeene Middelbare School). Di sekolah inipun Soemardjan hanya sempat masuk beberapa hari saja karena lagi-lagi kakeknya “mengambil” dan memindahkannya ke sekolah menengah bagi pejabat pamong praja, MOSVIA (Middelbare Opleidings School voor Inlandsche Ambtenaren) di Magelang.
Setelah menamatkan pendidikan MOSVIA (1934) kakeknya sekali lagi melarang Soemardjan masuk Sekolah Tinggi Hukum — Rechsthogeschool di Jakarta, dan harus tetap tinggal di Yogyakarta untuk bekerja sebagai juru tulis di Kesultanan dengan gaji f. 28 sebulan. Ini sesuai dengan tradisi dan garis hidup keluarganya: “anak laki-laki pertama mengabdi Sri Sultan Hamengku Buwono.” Setahun kemudian gajinya dinaikkan menjadi f. 135 sebulan karena dianggap sebagai pejabat pamong praja yang berijasah.
Bagaimana serapan pendidikan dan pengalaman kerjanya pada waktu itu? Selanjutnya Soemardjan bertutur.
STATUS kepegawaian Selo Soemardjan selama Revolusi adalah abdi dalem pada Kesultanan Yogyakarta. Dia merupakan orang kepercayaan Sultan HB IX. Jabatan apa yang disandang dan kemanapun Sri Sultan berada, Selo Soemardjan senantiasa menjadi pendamping setianya.
Tatkala Sri Sultan menjabat Menteri Pertahanan setelah Revolusi, Selo pun mengikutinya pindah ke Jakarta. Lingkup pergaulannya tidak lagi sebatas Kesultanan Yogyakarta melainkan kian bertambah besar seluas perkembangan birokrasi moderen, baik di dalam maupun luar negeri. Sebagai pembantu utama Menteri Pertahanan Sri Sultan HB IX, Selo Soemardjan mempunyai jaringan relasi dengan tokoh-tokoh penting, baik politisi, militer, akademisi maupun organisasi nonpemerintah.
Di Indonesia, khususnya Jakarta, pada 1950-an bermunculan berbagai lembaga berbentuk yayasan yang mencari “bibit-bibit” baru calon cendekiawan. Lembaga-lembaga ini menawarkan dan memberi bea siswa kepada siapapun orang Indonesia yang dianggap cerdas untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Di antara lembaga tersebut tampaknya Ford Foundation yang berkedudukan di Jakarta adalah lembaga pemberi bantuan yang paling giat mencari dan menyalurkan bea siswa. Selo Soemardjan adalah seorang di antara calon-calon yang dianggap layak menerima bea siswa, bahkan pimpinan Ford Foundation, Michael C. Harris, sendirilah yang memberi saran jurusan apa yang harus ditempuhnya. Ternyata bidang ilmu itu adalah Sosiologi. Selo Soemardjan yang pada waktu itu berusia 41 tahun, bersama istri, berangkat ke Amerika Serikat pada Januari 1956 dan masuk Cornell University, di Itacha, New York.
Mengenai pendidikannya di luar negeri, dan siapa pemberi beasiswanya, Selo Soemardjan menuturkan riwayatnya berikut ini.





