Penyair bisa dituntut untuk memberi bimbingan bagi pembacanya. Penyair juga bisa ditantang untuk melancarkan protes terhadap ketimpangan sosial. Penyair juga bisa diharapkan mengungkapkan keajaiban dan keindahan yang tersembunyi dalam batin manusia. Dia pun mungkin mendapat ilham untuk menyebarkan sabda Allah. Bahkan sama sekali tak mengherankan kalau dia hanya bermain kata. Tetapi, siapa yang sesungguhnya membaca sajak-sajak mereka?
DALAM sebuah karangan,1 saya pernah menyinggung pernyataan beberapa pengamat sastera Indonesia tentang hubungan antara puisi Indonesia dan perkembangan masyarakat, khususnya yang menyangkut pergeseran politik. Di satu pihak, H.B. Jassin dalam sebuah esei yang ditulisnya tahun 1966 mengaitkan munculnya Angkatan ’66 dengan peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru, dan mendasarkan pembicaraannya terutama pada puisi, khususnya puisi perlawanan atau perjuangan.2 Di pihak lain, beberapa tahun kemudian – tentu dalam situasi politik yang jauh lebih tenang – Goenawan Mohamad dan Ajip Rosidi membuat pernyataan yang mengungkapkan terciptanya suasana kreatif sesudah tahun 1966. Goenawan3 mencatat munculnya kembali tradisi penulisan lirik, sedangkan Ajip4 menyodorkan bukti-bukti munculnya kecenderungan bereksperimen dalam puisi kita.
1 “Catatan Ringkas tentang Puisi Indonesia Mutakhir”, dibacakan sebagai makalah pada tahun 1979 di TIM, dimuat antara lain dalam Kesusasteraan Indonesia Moderen: Beberapa Catatan, Jakarta: Gramedia, 1983.
2 Jassin, “Angkatan ’66”, pertama kali dimuat di Horison, 1966, kemudian dalam Angkatan ’66: Prosa dan Puisi, Jakarta: Gunung Agung; 1968.
3 Goenawan Mohamad, “Nyanyi Sunyi Kedua”, dalam Horison, IV, 2, 1969.
4 Ajip Rosidi, pengantar untuk Laut Biru Langit Biru, Jakarta: Pustaka Jaya, 1977.