Prisma

Radikalisasi Petani di Jawa dan Industrialisasi

Dr. Kuntowijoyo, Radikalisasi Petani. Esai-Esai Sejarah. Yogjakarta: PT. Bintang Intervisi Utama, 1993. Jumlah halaman: xii+187.

PADA dasarnya kehadiran manusia –mulai dari petani sampai priyayi, atau politisi sampai pedagang– adalah untuk berjuang dalam rangka mempertahankan martabat dan menunjukkan eksistensinya. Dalam proses sejarah kehidupan manusia selalu dipenuhi dengan munculnya konflik sosial, rekayasa budaya dan politik, perlawanan budaya dan politik, serta berbagai upaya untuk menguasai dunia internasional oleh suatu ideologi tertentu, yang dilakukan oleh para pelaku sejarah. Karena itu perubahan di masyarakat, yang terkadang membingungkan atau membuat kita kehilangan arah, pada realitanya selalu mempunyai interelasi yang jauh di masa lampau.

Itulah yang ingin disampaikan oleh Dr.Kuntowijoyo kepada khalayak pembaca buku ini. Ahli sejarah ini mengingatkan urgensinya pemahaman tentang sejarah masa lalu. “Sejarah mempunyai kekuatan yang tidak main-main,” katanya. “Sebab dengan memahami sejarah, kita mampu memiliki khasanah alternatif untuk memahami gejala aktual, dan sekaligus alternatif untuk menentukan pilihan atau jawaban yang aktual atas tantangan yang muncul.” Itulah cuplikan kalimat yang disampaikan oleh pengarang buku ini dalam kata pengantarnya.

Kegagalan PKI

Pada artikel pertama berjudul “Masyarakat Desa dan Radikalisasi Petani,” Dr. Kuntowijoyo menjelaskan dengan begitu gamblang, bagaimana PKI berhasil membuat petani di pedesaan menjadi radikal, walaupun pada kenyataannya berakhir dengan kegagalan.

Dalam upaya mengembangkan dan menanamkan kesadaran kelas, PKI mempunyai kesadaran nyata. Karena secara ideologi, PKI memang diwajibkan untuk selalu menyuarakan isu-isu tentang “pertentangan kelas.” Tetapi dalam realisasinya, PKI tidak dapat melaksanakannya secara konsisten, malahan membaurkan dengan bentuk sentimen aliran di masyarakat pedesaan. Partai ini seringkali memandang bahwa basis ekonomi kalangan “abangan” adalah pertanian. Sedangkan kaum santri pedesaan sering dituduh sebagai “kapitalis” atau “bourjuis” kecil di pedesaan (h.19). Disinilah letak kegagalan radikalisasi petani yang dilakukan oleh PKI, karena membuat generalisasi petani yang keliru. Dengan menerapkan dogmatis yang kaku dari Partai Komunis Cina, ternyata gagal.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan