Sejak Prisma terbit kembali pada 2009 hingga kini, untuk kali pertama kami menyelenggarakan angket. Angket ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mengidentifikasi sejauh mana khalayak mengenal Prismadan mengidentifikasi preferensi mereka tentang berbagai hal terkait literasi secara umum. Hasil angket ini diharapkan akan menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk memperkuat arah dan fokus kebijakan redaksi Prisma ke depan.
Angket daring (online) ini diselenggarakan sejak tanggal 30 Juni 2022 dan berakhir di tanggal 25 Juli 2022. Penyebarluasan informasi tentang angket ini dilakukan melalui halaman media sosial Facebook Prisma dan pesan berantai di aplikasi WhatsApp, baik di grup ataupun secara langsung/personal, serta sebagian melalui e–mail (surat elektronik) kepada para kontributor/penulis Prisma yang ada dalam pangkalan data (database) Prisma 2009-2021. Terjaring 146 pengisi angket.
Hasil lengkap angket ini dapat diakses mulai 31 Agustus 2022 di situs portal Prisma http://prismajurnal.com/survey/laporan-angket-prisma-2022.
Beberapa Temuan
Mayoritas pengisi angket ini (98%) telah mengetahui atau mengenal Prisma. Dari segi usia kelompok umur 45-54 tahun tampak paling dominan (28%). Generasi paling senior di kelompok umur itu lahir pada 1968 atau berusia 3 tahun saat Prisma terbit untuk kali pertama di tahun 1971, kemudian diikuti oleh generasi di bawahnya, yakni 35-44 tahun (23%). Sementara itu, kelompok usia 25-34 tahun (21%) dan kelompok usia 55 tahun ke atas (20%) jumlahnya relatif seimbang. Menariknya, terdapat 8 persen pembaca Prisma berusia di bawah 24 tahun yang umumnya lahir sekitar 1 tahun menjelang, saat, dan pasca-Reformasi. Pengisi angket termuda berusia 19 tahun, sedangkan yang tertua berusia 75 tahun, keduanya laki-laki. Selisih usia keduanya terpaut cukup jauh, 56 tahun.
Grafik 1. Kelompok Usia Pembaca Prisma N=146

Dari segi komposisi gender hasil angket Prisma ini terlihat timpang. Jumlah pembaca Prisma laki-laki sangat dominan (76%) dibanding perempuan (24%). Bahkan, tidak satu pun pembaca Prisma yang perempuan di kelompok usia di bawah 24 tahun. Menarik, meski jumlah kelompok pembaca Prisma yang perempuan tergolong paling kecil, namun 34 persennya merupakan kelompok usia 35-44 tahun.
Sejak kapan pembaca Prisma mengenal atau mengetahui keberadaan jurnal ini? Sebagian besar pambaca Prisma (49%) mengaku telah mengenal jurnal ini lebih dari 20 tahun (49%), kemudian diikuti oleh 13 persen yang telah mengenal jurnal ini selama sekitar 5 tahunan. Sisanya masing-masing menyatakan telah mengenal Prisma selama 15 tahunan (13%) dan 10 tahunan (10%). Hanya sebagian kecil saja pembaca Prisma yang mengalami kesulitan mengingat sejak kapan mereka mengetahui atau mengenal jurnal ini untuk kali pertama (7%).
Sebagian besar pengisi angket menyatakan bahwa lingkungan kampus/universitas merupakan sarana utama yang mengantarkan mereka untuk dapat mengenal atau mengetahui jurnal Prisma lebih dalam, kemudian diikuti oleh lingkungan kerja atau seorganisasi.
Sejalan dengan itu, mayoritas pengisi angket memiliki latar belakang pendidikan perguruan tinggi. Sementara itu, pekerjaan dari mereka yang mengenal Prisma didominasi oleh tiga jenis pekerjaan utama, yaitu staf pengajar/dosen di universitas, peneliti/periset (termasuk konsultan, tenaga ahli dan profesional) dan karyawan swasta. Itu menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan mayoritas pembaca Prisma berhubungan erat dengan jenis pekerjaan yang mereka geluti.
Grafik 2. Kategori Pekerjaan N=146

Bagian terbesar dari pembaca Prisma memiliki pengeluaran (konsumsi) di atas Rp 4,5 juta per bulan (dengan rentang skala tertinggi mencapai Rp 12,5 juta per bulan). Di samping itu, hampir tidak ada dari pembaca atau yang mengenal Prisma yang tidak mengeluarkan biaya per bulan untuk konsumsi bahan bacaan, meski rentang variasinya berbeda. Itu membuktikan bahwa pengalokasian biaya yang secara khusus ditujukan untuk mendapatkan bahan bacaan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseharian mereka.
Hasil angket ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar pembaca Prisma berdomisili di wilayah urban. Dari segi sebaran geografis, sebagian besar dari mereka tinggal di berbagai kota besar di Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya. Hal yang menarik, meski jumlahnya sangat kecil, terdapat pembaca Prisma yang berdomisili di luar negeri (khususnya di Eropa dan Asia).
Sejauh ini sebagian besar pembaca Prisma memandang jurnal ini merupakan wadah pemikiran kaum intelektual (62%) ketimbang sebagai bacaan atau jurnal akademis (21%). Berdasarkan cara pandang yang demikian, jurnal Prisma memilikipositioning tersendiri. Jurnal ini cenderung dipersepsi sebagai media yang bernuansa pemikiran dalam konteks gerakan sosial secara umum di dunia pemikiran ketimbang jurnal akademis yang cenderung lebih spesifik. Reputasi dan posisi Prisma sebagai arena pergulatan intelektual kritis di Tanah Air tampaknya masih cukup kuat tertanam di benak pembacanya.
Hasil angket ini juga mengonfirmasi bahwa media harian cetak nasional semakin kehilangan khalayak secara signifikan. Menarik bahwa hal yang sama juga terjadi di media (siar) televisi nasional. Siaran televisi nasional yang dalam dua dekade sebelumnya menjadi acuan khalayak sebagai sumber informasi, kini semakin tergantikan oleh media online dan Youtube.
Sejauh ini, Kompas (baik edisi cetak, e-paper maupun kompas.id) masih dibaca oleh sebagian besar pembaca Prisma. Dengan demikian, temuan ini membuktikan bahwa pembaca Prisma identik dengan pembaca Kompas. Sementara itu Tempo dan The Jakarta Post masing-masing menduduki posisi ke-2 dan ke-3 sebaga media berita harian yang paling sering dibaca oleh mereka yang mengenal Prisma.
Sebagian besar pembaca Prisma menyatakan masih sering membaca buku bertema sosial-humaniora dibanding tema lainnya. Tema berikutnya yang paling sering dibaca masing-masing adalah filsafat serta agama dan spiritual. Mayoritas dari mereka juga menyatakan lebih sering membaca buku non-fiksi ketimbang fiksi.
Lebih dari itu, perilaku pembaca Prisma dalam membaca atau mendapatkan buku sebagai bahan bacaan juga mengalami pergeseran. Jumlah mereka yang sering membaca buku (71%) tidak terpaut jauh dengan membaca buku melalui e-book (62%).
Sejalan dengan penggunaan media berbasis digital sebagai sumber informasi yang makin intens di kalangan pembaca Prisma, mereka sepenuhnya juga merupakan pengguna media sosial (Facebook, Twitter dan Instagram). Meski dengan durasi yang sangat bervariasi, seluruh pembaca Prisma merupakan pengguna media sosial. Hasil angket ini menunjukkan bahwa hampir setengah dari pembaca Prisma setidaknya menggunakan media sosial sekitar 1-3 jam per hari.
Kesimpulan
Temuan penting angket ini mengindikasikan bahwa karakter sosial pembaca Prisma adalah kelas menengah perkotaan dan terdidik. Indikasi itu dapat dilihat dari latar belakang pendidikan, pekerjaan, serta pilihan media dan buku yang dibaca. Sebagai kelas menengah perkotaan-terdidik, kalangan itu sangat peduli dengan berbagai hal terkait upaya pencarian dan pemanfaatan sumber-sumber informasi yang tersedia.
Posisi sosial mereka membuat kelompok ini memosisikan kebutuhan informasi sebagai sebuah keniscayaan—jika tidak ingin dinyatakan sebagai absolut. Basis utama pekerjaan mereka yang mengenal Prisma semuanya berhubungan upaya mencari dan memanfaatan sumber-sumber pengetahuan (informasi) di ruang publik, termasuk mengalokasikan secara khusus biaya setiap bulan untuk kebutuhan akan informasi.
Dengan latar semacam itu, tidak mengherankan jika para pembaca Prisma,sebagaimana terungkap melalui angket ini, adalah komunitas yang sadar literasi. Dari latar belakang pendidikan dan jenis pekerjaan yang digeluti serta cara mereka mencari informasi menunjukkan bahwa kalangan ini tidak sekadar memahami dunia dengan cara mampu membaca dan menulis dalam pengertian tradisional, namun memiliki kapasitas mempergunakan atau mentransformasi pengetahuan yang mereka miliki dengan cara mengonsumsi, mengolah, memproduksi dan menyebarluaskan pengetahuan.
Oleh karenanya, mereka juga sangat adaptif terhadap berbagai perubahan teknologi informasi yang semakin memberikan kemudahan akses bagi publik. Selain itu, kondisi politik domestik pasca-Reformasi yang semakin memberikan ruang keterbukaan terhadap aneka jenis media tampaknya juga berbanding lurus dengan menguatnya konsumsi informasi publik.
Hasil angket ini membuktikan pembaca Prisma umumnya mengandalkan sumber informasi dari media online dan menggunakan media sosial sepenuhnya. Khusus untuk media sosial, tidak satu pun pembaca Prisma yang tidak menggunakan jenis media ini sebagai saluran komunikasi, baik Facebook, Twitter maupun Instagram. Saat ini, media sosial merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseharian pembaca Prisma.
Di sisi lain, kecenderungan yang menguat di kalangan pembaca Prisma dalam panggunaan media online sebagai sumber informasi agaknya berbanding lurus dengan semakin menurunnya pembaca koran cetak harian sejak sekitar satu dasawarsa silam.
Menarik bahwa membaca dan upaya memperoleh buku secara “tradisional” (format cetak) masih dominan bagi sebagian besar pembaca Prisma sambil mengombinasikannya dengan cara membeli buku dalam format digital (pdf) melalui lokapasar (marketplace) daring. Selain masih menggunakan metode konvensional, yakni membeli langsung dari kios atau toko buku, mereka juga memakai cara lain dengan membeli melalui lokapasar daring. Bagi pembaca Prisma membaca buku sepertinya memerlukan waktu dan konsentrasi secara khusus, dan oleh karenanya sangat berbeda dengan membaca/mengakses sajian informasi berbasis daring.●