Prisma

Sang Pemimpin

Damarwulan, anak gunung yang kemudian berhasil mempersunting ratu Majapahit, harus menjalani hidup yang penuh derita, sebelum tiba ke singgasana. Sesudah berguru kepada eyang resi di gunung, ia masih harus nyuwita, mengabdi di kepatihan sebagai tukang kuda. Di sini ia belajar tentang disiplin yang berat, menerima hinaan dan perlakuan sewenang-wenang, dan mematikan hasrat untuk memberontak. Kekuasaan memang bisa angkuh, tetapi calon penguasa tak boleh mengeluh.

Dongengnya menjadi suri teladan bagi banyak anak priyayi di kemudian hari. Mereka harus menjalani lara-lapa, berguru di gunung atau di pesantren, disambung dengan masa pengabdian yang berat dan panjang di pavilyun kekuasaan. Di sana mereka mempelajari gaya dan teknik berkuasa, sambil menelan keangkuhannya.

Masa kolonial tak banyak mengubah tradisi ini, kecuali memberi orientasi Eropa kepadanya. Anak-anak pembesar tak perlu lagi pergi ke gunung. Mereka cukup belajar dari tutor Belanda di kabupaten, atau tinggal bersama keluarga Belanda, dan kalau mau lebih hebat lagi, belajar ke Negeri Belanda.

Tetapi ada rute lain yang menyimpang. Dalam mitologi Jawa, hal itu mungkin ditunjukkan oleh kisah Ken Arok. Ia tidak dibesarkan dalam tradisi disiplin yang ketat. Ia hidup liar, lepas dan bebas. Menjadi jagoan, perampok, dan sepuas hatinya mereguk setiap nikmat yang bisa diperoleh. Satu-satunya yang diperlukannya adalah perubahan radikal, bertobat. Di akhir cerita, Ken Arok menjadi raja, pendiri dinasti baru.

Dalam istilah kita sekarang, mungkin bisa dikatakan adanya dua rute menuju kepemimpinan. Rute pertama ditumbuhkan di dalam sistem, sedang yang kedua di luarnya. Rute pertama meminta ketundukan mutlak terhadap sistem, di samping penguasaan teori, metode, dan teknik yang lazim. Rute kedua, sebaliknya, justru bermula dari menantang sistem. Rute pertama mempertahankan apa yang sudah mapan, dan karena itu tak banyak menimbulkan gejolak, sedang rute kedua menantang kemapanan dan karena itu sering diikuti dengan keributan.

Kita pun agaknya masih mengakui kedua-duanya sebagai rute yang sah. Untuk terkemuka, orang bisa mulai dengan tekun mempelajari sistem dan menguasai teori, metode, teknik dan gayanya. Tetapi orang bisa juga memulainya dengan menjadi pejuang, pemberontak, atau barangkali demonstran.

Namun rute mana pun yang ditempuh, seorang pemimpin harus membuktikan keabsahannya. Sebab, walaupun kepemimpinan merupakan kemestian dalam hidup berkelompok, manusia memerlukan dasar pembenaran untuk menerimanya. Dasar itu boleh jadi suatu dongeng, seperti ketika Ken Arok mengaku sebagai penjelmaan Wisnu, bisa juga suatu dalih rasional seperti pada zaman kita. Tetapi tanpa dasar ini, kepemimpinan hanya tegak dengan paksaan.

Keabsahan juga kita perlukan, karena ia memberikan suasana kesinambungan, ketika sebenarnya kita sedang berhadapan dengan perubahan. Sebab dalam mitologi kita, sang pemimpin dan kelas yang memerintah boleh berganti, tetapi masyarakat dan sejarah harus terus bersambung.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan