Prisma

Sastera Kita Kini: Perdebatan Tanpa Sejarah

Pengantar

SASTERA Indonesia mutakhir sering dikritik sebagai karya yang tak mengandung kritik sosial. Goenawan Mohamad, penyair, Pemimpin Redaksi majalah berita mingguan Tempo, membantah itu. “Sastera kita selalu mempunyai tradisi protes, khususnya sejak 1940-an, ketika ‘kekurangajaran’ mulai dimunculkan terhadap audience,” kata Goenawan. Dia menunjuk puisi F. Rahadi dan lakon-lakon Arifin C. Noer sebagai bukti.

Walau begitu, Goenawan mengakui bahwa audience orang-orang yang melakukan protes sosial itu adalah lingkungan mereka sendiri. Kenapa? Karena sifat sastera dan kesenian di Indonesia sejak dulu memang terisolasi.

Dalam “Dialog” kali ini, selain Goenawan Mohamad, juga kami tampilkan Hamsad Rangkuti, Pemimpin Redaksi majalah Horison, dan kritikus sastera H.B. Jassin.

Rangkuti menceritakan riwayat Horison sebagai majalah sastera, sejak ia diterbitkan pertama kalinya Juli 1966. Di samping untuk menyalurkan karya sastera, kehadiran Horison saat itu dianggap juga sebagai tempat pencetusan lahirnya elite baru dalam sastera.

Kritikus sastera H.B. Jassin, bicara tentang pengetahuan yang diperlukan oleh sasterawan, yakni pengetahuan yang bukan hanya dari buku, tapi juga dari gerak-gerik dan apa yang terjadi di dalam negara ini. Menurut dia, perkembangan ekonomi, politik dan sosial harus diamati dengan sungguh-sungguh. Pengarang yang serius, terisi dan berpikir secara intelektual, harus menyerap semuanya ini dan baru sesudah itu bisa mengeluarkannya secara utuh.

“Ketidakmatangan, menurut saya juga terjadi akibat cara berpikir yang menganggap bahwa hal-hal di luar sastera bukanlah bidangnya,” kata Jassin, suatu cara pandang yang menurut kritikus ini sama sekali tidak tepat.

“Ada memang sasterawan Indonesia berbicara tentang masyarakat dan sebagainya, tapi mereka masih tetap terganggu oleh keakuan. Menurut saya, tidak usahlah kita berpikir hebat, tapi yang harus dilakukan ialah sungguh-sungguh mendalami, mencari kebenaran dan kenyataan bagaimana persisnya.”  Redaksi

Sejarah Sastera Indonesia: Perkembangan yang Tak Pernah Mengagetkan, Goenawan Mohamad, Penyair, Pemimpin Majalah Berita Mingguan Tempo

SAYA tidak keberatan jika sebuah karya sastera mau diukur nilainya berdasarkan ukuran-ukuran di luar kesusasteraan. Hal ini dapat dilakukan, misalnya oleh ilmuwan sosial ataupun politikus. Tetapi penilaian seperti itu tidak cukup tanpa ukuran-ukuran kesusasteraan. Menurut ukuran kesusasteraan itu sendiri, ia — karya sastera tersebut — harus terasa jujur dan menggetarkan hati pembacanya.

Pengarang Sekarang Asyik dengan Dirinya Sendiri, Hamsad Rangkuti, Pemimpin Redaksi Majalah Horison

MAJALAH Horison mulai terbit pada Juli 1966, pada masa adanya kekosongan majalah sastera di tengah masyarakat. Sebelum itu sebuah majalah – Sastera namanya – tapi berherrti terbit pada sekitar tahun 1963. Beberapa saat kemudian majalah tersebut hidup lagi, namun kemudian mati lagi. Melihat keadaan begitu, beberapa teman – termasuk pelukis Zaini, Soe Hok Gie, Arief Budiman, Taufiq Ismail, Bur Rasuanto, H.B. Jassin – datang kepada Mochtar Lubis. Mereka membawa ide untuk menerbitkan suatu media sastera, berupa majalah, dan mereka namakan Horison. Jadi, faktor pendorong berdirinya majalah tersebut ialah kevakuman, atau tidak adanya majalah sastera tempat penyaluran karya-karya. Keadaan saat itu sebetulnya sangat janggal. Pengarang yang jumlahnya cukup banyak pada masa itu banyak menyimpan karya mereka, sama saja dengan pelukis yang memerlukan pameran untuk memperagakan karya mereka. Satu-satunya media yang pas untuk menyalurkan karya sasterawan adalah majalah sastera seperti Horison. Tetapi tidaklah berarti bahwa saat itu sasterawan tidak bisa mengirimkan karya sastera mereka ke suratkabar ataupun majalah selain Horison.

Yang Dimiliki Pengarang Kita Hanya Sebatas Bakat, H.B. Jassin, kritikus sastera.

YANG saya lihat dari perkembangan sastera sekarang adalah suatu garis lurus yang tetap. Tidak ada kemacetan ataupun kemunduran. Semuanya itu maju saja, dan ini buat saya pribadi menggembirakan. Saya melihat sastera bukan hanya pekerjaan satu atau dua orang saja. Sastera bukan hanya pekerjaan pengarang Siti Nurbaja ataupun Salah Asuhan. Ia bukan hanya pekerjaan Sutan Takdir Alisjahbana, Armyn Pane ataupun Chairil Anwar. Hasil para pengarang yang sekarang juga sastera. Bagi saya, semuanya itu jadi satu. Kalau ada perkembangan bentuk, bagi saya itu adalah suatu pertambahan saja. Saya mengamati sastera mulai dari masa Balai Pustaka, pengarang periode 1945 dan 1966 serta kemudian 1970-an, sampai sekarang. Saya mencatat semua pengarang yang muncul dalam dunia sastera. Dan di situ selalu ada tambahan-tambahan di dalamnya. Jika kita ingin melihat perkembangan, kita tak bisa mengambil periode yang pendek. Untuk itu diperlukan waktu agar terlihat siapa yang muncul dalam masa tertentu dan apa karyanya yang penting pada masa itu.

Dalam hal tema pun sebetulnya banyak kesamaan pilihan. Hanya saja, cara membicarakannya berbeda-beda. Sutardji Calzoum Bachri misalnya, dalam puisinya banyak memilih tema ketuhanan. Tema ketuhanan ini juga banyak diambil pengarang relijius lain sebelumnya, misalnya Amir Hamzah. Hanya saja, idiomnya berbeda. Idiom Amir Hamzah dulu adalah sopan santun, karena dia orang yang dibesarkan dalam keluarga bangsawan yang serba teratur. Sutardji memakai cara berteriak. Tapi dia juga mencari Tuhan, Sutardji mempergunakan kata-kata yang bagi kita mengagetkan, apalagi buat orang yang terbiasa dengan Amir Hamzah, ungkapan Sutardji akan terasa kasar.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan