Prisma

Sastra Perempuan Pasca-Orde Baru

  • Leila S Chudori • Dhianita Kusuma Pertiwi
  • Laksmi Pamuntjak • Nusya Kuswantin
    Pembacaan atas Empat Novel Perihal G30S 1965

Dari pembacaan atas keempat novel yang, baik langsung maupun tak langsung, menautkan ceritanya pada peristiwa G30S 1965—tentu saja yang dimaksud dengan “G30S 1965” bukan hanya peristiwa pada malam hari tanggal 30 September 1965 hingga sore hari tanggal 1 Oktober 1965 di Jakarta saja, tetapi segala perihal dari peristiwa pada tanggal yang disebutkan di atas hingga peristiwa pemulangan para tahanan politik dari Pulau Buru pada era 1970- an—tampak bahwa G30S 1965 sebagai sumber inspirasi penciptaan karya sastra sudah menemui beragam bentuk presentasinya. Wabil khusus, mengangkat perihal korban. Namun demikian, perlu kiranya dicerna apakah karyakarya yang mengangkat tema tersebut benarbenar berpihak pada korban?

Sejauh pembacaan atas keempat novel ini, keberpihakan karya sastra pada korban G30S 1965 masih terbatas pada korban langsung, korban lingkar pertama, dan korban lingkar kedua, mereka yang dekat dengan korban langsung. Karya-karya sastra kita kemungkinan besar belum terlalu atau sulit mengelaborasi korban di tataran yang lebih jauh dari itu. Padahal, korban di tataran yang demikian tentunya juga penting, meskipun barangkali terlalu jauh posisinya dari peristiwa yang dimaksud. Barangkali memang perlu lebih banyak lagi novel atau karya sastra yang membahas perihal korban langsung dan korban yang dekat dengan korban langsung ini sebelum perhatian para sastrawan kita dalam konteks G30S 1965 beralih ke jenis korban yang lebih jauh dari dua jenis korban di muka.•

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan