Prisma

Serba Pandangan tentang Peranan Cendekiawan

Dialog kita kali ini memang agak berbeda dengan semua dialog yang pernah kita sajikan. Bukan saja karena banyaknya tokoh yang diwawancarai, tetapi juga karena keaneka ragaman pandangan mengenai masalah yang memang bersegi banyak itu.

Bagian pertama dari dialog ini mencoba mengungkapkan peranan cendekiawan dalam proses pembaharuan dan perubahan sosial, tidak saja dari segi konsepsi yang diajukan, tetapi juga dari segi bagaimana mereka menghayati atau mengamati peranan cendekiawan dalam proses itu. Ada keinginan untuk mengungkapkan “kegeliran masa pancaroba” ketika cendekiawan mulai merasa terasing dalam sistem sosial budaya yang melingkupinya, lalu berusaha mencari arah, pola dan bentuk-bentuk baru yang lebih serasi, dan bagaimana pula tanggapan masyarakat dan lingkungan mereka terhadap hal ini.

Demikianlah melalui serangkaian wawancara kita coba mengungkap penghayatan Prof. Sutan Takdir Alisjahbana, sastrawan dan budayawan yang ditahun tigapuluhan terlibat dalam polemik kebudayaan dengan rekan-rekan sezamannya mengenai arah yang hendak ditempuh dalam mengejar kemajuan. Dr. Taufik Abdullah, sejarawan dan Direktur LEKNAS-LIPI mengutarakan beberapa pilihan yang rumit yang harus dihadapi kaum cendekiawan dalam melancarkan pembaharuan. Sementara Nurcholisih Madjid, bekas Ketua PB Himpunan Mahasiswa Islam dan penectus ide pembaharuan di kalangan umat Islam menguraikan proses panjang yang dialami oleh umat ini dalam geraknya ke arah modernisasi. Dengan Prof. Doddy Trisna Amidjaja, Rektor ITB dan kini Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kita mencoba membahas peranan cendekiawan dan lembaga universitas dalam proses perubahan sosial, sementara Letnan Jenderal M.M. Rachmat Kartakusuma, Sekretaris Jenderal Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional melengkapi segi-segi yang menyangkut konflik dalam proses perubahan itu. Pemimpin Redaksi Tempo, Goenawan Mohamad, memberikan jawaban yang demikian khas; kalau Anda menangkap nafas pembaharuan di sana, maka rasanya itu lebih ditujukan kepada para cendekiawan sendiri. Bagian kedua dari dialog kita mempersoalkan sikap maupun keterlibatan kaum cendekiawan dalam hal-hal yang menyangkut kekuasaan. Dalam bagian ini kita jumpai Achmad Subardjo Djojoadisurjo, bekas Menteri Luar Negeri RI yang mengungkapkan penghayatannya sebagai anggota Perhimpunan Indonesia yang harus menghadapi kekuasaan kolonial pada masa itu. Tokoh lain yang kita wawancarai mengenai ini adalah Sumiskum, Wakil Ketua DPR, di samping Letjen M.M. Rachmat Kartakusuma, Prof. Doddy Trisna Amidjaja dan Dr. Taufik Abdullah yang tadi telah kita sebut. Unik dalam hal ini adalah wawancara dengan Pandam Guritno, yang walaupun berpendidikan Barat (MA, Cornell) tetapi mampu menggali kisah-kisah pewayangan yang relevan dengan pembicaraan kita kali ini. Jadilah dialog kita ini semacam “symposium” kecil, yang memang tidak dimaksudkan untuk mengusulkan penyelesaian. Redaksi.—

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan