
Judul buku : Digital Indonesia: Connectivity and Divergence
Editor : Edwin Jurriëns dan Ross Tapsell
Penerbit : ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura, 2017
Tebal : 301 halaman
ISBN : 978-981-4786-003

Judul buku : Kuasa Media di Indonesia: Kaum Oligarki, Warga, dan Revolusi Digital
Penulis : Ross Tapsell
Penerbit : Marjin Kiri, 2018
Tebal : x +298 halaman
ISBN : 978-979-1260-81-7
Ada tiga kata kunci atau istilah penting yang muncul dan sekaligus menjadi penanda dari masing-masing zaman: Pembangunan, Globalisasi, dan Digitalisasi. Kata “pembangunan” akrab di telinga kita untuk banyak literatur ataupun program yang muncul sejak dekade 1970-1990-an1, kemudian kata “globalisasi” muncul ke permukaan di akhir tahun 1990-an dan terus terdengar hingga dekade pertama abad ke-21.2 Sementara itu,“digitalisasi” sebagai kata kunci muncul pada dekade pertama abad ke-21 dan hingga hari ini pun kita mungkin mendengar setiap hari orang membicarakannya ataupun lewat tulisan.3 Namun, sama seperti dua istilah penting sebelumnya—Pembangunan dan Globalisasi—penjelasan sejumlah literatur awal atas istilah digitalisasi cenderung positivistik, terkesan memberi sebuah harapan, yang kemudian diikuti literatur gelombang berikutnya dengan ulas-an bersifat lebih kritis atas kondisi Pembangunan dan Globalisasi.
1 Lihat, misalnya, Suwarsono dan Alvin Y So, Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 1991).
2 Lihat, misalnya, James H Mittelman, Globalization: Critical Reflection (London: Lynne Reinner Publishers, 1996).
3 Lihat, misalnya, Evgeny Zaramenskikh dan Alena Fedorova (eds.), Digital Transformation and New Challenges (Springer, 2020).