Pengantar
Meskipun hampir dua tahun berselang, pertukaran pikiran dan perdebatan dalam konferensi internasional “Rethinking Marxism”, 14-16 November 1992 di University of Massachusettss at Amherst, Amerika Serikat, layak disimak. Para peserta yang terdaftar dan membayar kira-kira mencapai 1250 orang. Karena kesulitan keuangan, banyak juga yang menyelundup, termasuk saudara Alex Irwan yang menulis laporan ini.
Topik-topik yang dibicarakan sangat beragam; dari runtuhnya Uni Soviet, postfordism, kontroversi seputar Althusser dan kalangan pascamodernis, hubungan antara nasionalisme dan rasisme, hegemoni dan perlawanan, ekologi dan pembangunan, pembentukan kawasan perdagangan bebas di Amerika Utara, teori dan analisa seni dan sastra, teori negara, teori Marxisme, imperialisme, seksualitas, pembentukan solidaritas internasional, feminisme dan analisa kelas, sampai ke masa depan sosialisme di Dunia Ketiga.
Topik yang terakhir itu, yang dikemukakan dalam beberapa panel, sangat menarik, karena dalam konferensi ini jelas sekali terlihat bahwa yang sama-sama menyebut diri Marxis ternyata mempunyai posisi teoritis yang berbeda-beda. Di sini tidak akan diungkap perbedaan pendirian mereka. Laporan ini terbatas pada mengungkapkan berbagai gagasan mewujudkan sosialisme di masa depan yang didiskusikan dalam konferensi tersebut, ditambah berbagai bacaan. Topik tersebut sangat menarik karena gagasan tersebut merupakan hasil dari pergulatan pemikiran yang sangat serius di kalangan Marxis dalam menghadapi berbagai perubahan mendasar di berbagai negeri bekas Uni Soviet, Eropa Timur, Kuba, Cina, dan Vietnam. Redaksi
Kapitalisme Negara
Stephen Resnick dan Richard Wolff1 berpendapat bahwa sistem ekonomi yang terdapat di bekas Uni Soviet bukanlah sosialisme tapi kapitalisme negara (state capitalism). Mereka berargumen bahwa di Uni Soviet terjadi eksploitasi atas buruh dan petani. Pemerasan terjadi karena alat-alat atau sarana produksi dimiliki oleh negara yang tidak berada di bawah kontrol demokratis kaum proletar. Nilai lebih (surplus value) diambil negara dan ditanamkan besar-besaran di sektor militer dan industri berat, yang belum tentu dikehendaki oleh para penghasil nilai lebih (buruh) itu sendiri. Mereka menyebut sistem tersebut kapitalis negara karena yang mengambil dan mendistribusikan nilai lebih bukanlah mereka yang memproduksi nilai lebih itu sendiri tapi negara. Dari pendapat tersebut kita mendapat kesan bahwa dalam sosialisme terjadi produksi nilai lebih. Tapi produksi nilai lebih ini bukanlah eksploitasi, karena yang mengambil dan mendistribusikan surplus tersebut yaitu mereka yang memproduksi nilai lebih itu sendiri. Dari sini muncul pertanyaan yang sangat sulit dijawab: Sistem perwakilan politik macam apakah dalam sosialisme yang bisa menjamin hak pekerja atas nilai lebih yang mereka hasilkan? Dari presentasi mereka berdua, tidak didapat jawaban atas pertanyaan tersebut.
Representasi politik merupakan masalah sentral dalam sosialisme. Kalau pekerja tidak melakukan kontrol demokratis atas distribusi nilai lebih yang mereka hasilkan, kepemilikan alat-alat produksi secara kolektif tidak menghasilkan sosialisme. Ironisnya, masalah representasi ini sering sekali diabaikan dalam pemikiran teoritis tentang pewujudan sosialisme, yang lebih sering menitikberatkan pada analisa hubungan-hubungan produksi dan distribusi. Bertell Ollman2 misalnya, dalam presentasinya mengatakan bahwa sosialisme hanya bisa diwujudkan kalau semua sarana produksi dimiliki secara kolektif dan sistem produksi dan distribusi diatur melalui perencanaan terpusat (central planning) seperti yang diterapkan di bekas Uni Soviet dan di Cina sebelum 1978. Dia menolak pencampuran pemilikan alat-alat produksi secara kolektif dan swasta, serta menolak penggunaan mekanisme pasar untuk distribusi. Alasannya karena hubungan dialektis antara hubungan pemilikan sarana produksi kolektif dengan swasta, antara dua hubungan pemilikan tersebut dengan sistem distribusi pasar, dan antara hubungan-hubungan produksi serta distribusi tersebut dengan sistem ekonomi kapitalis dunia, dewasa ini tidak akan mengantar ke sosialisme.
Presentasi Gordon White3 tentang perubahan ekonomi di Cina mendukung pendapat Ollman. Seperti kita ketahui, pemerintah Cina sejak tahun 1978 memperbolehkan pemilikan berbagai sarana produksi oleh swasta. Dalam bagan di bawah ini kita bisa melihat rencana pemerintah Cina dalam mengatur kombinasi pemilikan alat-alat produksi. Pada tahun 1981, sektor swasta hanya menghasilkan 1% dari keseluruhan keluaran (output) industri. Sektor kolektif menghasilkan 21%, dan sektor negara menguasai 78% dari keluaran industri. Menurut rencana, pada tahun 2000 komposisi ini akan berhasil diubah menjadi 25%, 48%, dan 27%. Jelas terlihat bahwa pemerintah Cina mengambil kebijakan ekonomi yang berlawanan dengan kebijakan pemerintah Rusia di bawah Yeltsin yang berusaha menswastakan sebagian besar alat-alat produksi dan mempasarbebaskan mekanisme distribusi di Rusia.4 Kalau kebijakan ekonomi pemerintah Cina berjalan seperti yang direncanakan, kombinasi sektor kolektif dan sektor negara akan tetap mendominasi ekonomi Cina.
1 Stephen Resnick dan Richard Wolff dalam konferensi tersebut mempresentasikan sebuah makalah dengan judul “Rise and Fall of State Capitalism”. Mereka berdua penulis buku Economics: Marxian versus Neo-classical, (John Hopkins University Press, Baltimore, 1987); Knowledge and Class: A Marxian Critique of Political Economy, (University of Chicago Press, Chicago, 1987).
2 Bertell Ollman menampilkan makalah “Market as Mystifier: From the Violence of People to the Violence of Things”. Dia penulis buku Alienation: Marx’s Conception of Man in Capitalist Society, (Cambridge Univeristy Press, Cambridge and New York, 1976); Dialectical Investigations, (Routledge, New York, 1992).
3 Gordon White mengajar di Institute of Development Studies, Sussex. Dia mengedit buku China’s New Development Strategy, (Academic Press, London, New York, 1982) bersama dengan Jack Gray; Developmental States in East Asia, (St. Martin Press, New York, 1988).
4 Catatan kaki sumber tidak tercantum pada bagian akhir teks dokumen ini.