Perkembangan Islam politik di dunia selama dua sampai tiga dasawarsa terakhir sangat fenomenal. Revolusi Iran 1979 membuka suatu babak sama sekali baru dalam percaturan politik dunia. Peristiwa “9/11”, meski tidak memiliki hubungan langsung, juga membuka pandangan baru tentang Islam dengan membelah dunia menjadi dua bagian saling bertentangan: Islam damai vis a vis Islam radikal.
Di sisi lain, perkembangan pesat Islam ke Barat membuka peta sama sekali berbeda dari segi sosia/politik. Eropa sudah bukan lagi milik ras kulit putih dan Kristen. Ia telah menjelma menjadi ajang multikultur. Demikian pula Amerika. Pertanyaannya bagaimana masalah integrasi, terutama di Eropa, yang bercampur-baur dengan rasisme dan persoalan dengan kaum pendatang bisa diselesaikan secara tuntas?
Dampak serupa terjadi di Indonesia dengan dimensi sedikit berbeda. Masalah yang dihadapi memang tidak sama dengan masalah di negara-negara Barat, namun imbas gerakan Islam internasional tentu akan membawa dampak tidak kecil bagi Indonesia. Bagaimana pandangan Indonesia terhadap perkembangan Islam di dunia? Apakah Islam Indonesia dapat memberi kontribusi bagi perkembangan peradaban dunia yang lebih baik? Untuk membedah persoalan itu, Prisma berdialog dengan Ketua Dewan Pengurus Harian Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Siti Musdah Mulia. Berikut cuplikan dialog MA Satyasuryawan dengan peraih Yap Thiam Hien Award 2008 itu.

Prof Dr Siti Musdah Mulia, MA ialah perempuan pertama peraih penghargaan Doktor Terbaik Institut Agama Islam Negeri (sekarang Universitas Islam Negeri; red) Syarif Hidayatullah, Jakarta, dengan disertasi berjudul Negara Islam: Pemikiran Politik Haikal (1997). Dua tahun kemudian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengukuhkannya sebagai Profesor Riset di Departemen Agama RI dengan pidato pengukuhan Potret Perempuan Dalam Lektur Agama (1999).
Musdah lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 3 Maret 1959. Pendidikan Sarjana Muda diraih dari Jurusan Dakwah Fakultas Ushuluddin, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar (1980); lalu S1 Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab, IAIN Alaudin, Makassar (1982); dan gelar Magister Bidang Sejarah Pemikiran Islam (1992) serta Doktor Bidang Pemikiran Politik Islam (1997), keduanya dari UIN Syarif Hidayatullah.
Selain mengajar di program Pascasarjana UINSyarif Hidayatullah (1997- sekarang) dan pernah menjadi Visiting Profesor di EHESS, Paris, Perancis (2006), Musdah aktif sebagai Ketua Dewan Pengurus Harian Indonesian Conference on Religion and Peace. Berbagai penghargaan pernah diraihnya antara lain Tokoh Tahun 2004 versi Majalah Tempo; International Women of Courage Award dari Departemen Luar Negeri AS (2007); Yap Thiam Hien Human Rights Award 2008; dan International Woman of The Year 2009 (Premio Internazionale La Donna Dell’anno 2009) dari Consiglio Regionale Della Valle D’Aosta, Italia.