Pengantar
Kebijaksanaan pangan sekarang ditujukan pada upaya peningkatan produksi beras dan peningkatan pendapatan petani. Dalam mekanisme masih dipertahankan penetapan sistem harga dasar untuk mengendalikan melambungnya harga atau mencegah kemerosotan yang merugikan petani. Dalam masalah ini peranan subsidi masih dipertahankan. Namun kini dipertahankan sampai seberapa banyak manfaatnya atau implikasi apa yang ditimbulkannya baik bagi konsumen maupun petani sendiri.
Profesor Ir. Memed Satari, bekas Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) dan sekarang Guru Besar di IPB, melihat bahwa masih diperlukan adanya subsidi kepada petani. Ia melihat juga kekurangan dalam pengembangan persawahan yang membawa akibat pada kerusakan tanaman pangan setempat yang justeru lebih tepat dengan kondisi alamnya. Kepincangan lain yang sangat mengganggu, ialah sistem distribusi pangan yang jalannya masih lamban sehingga potensi pangan belum dapat digarap secara maksimal. Dalam masalah peningkatan pendapatan petani, Satari berpendapat sebaiknya lebih diarahkan pada pendayagunaan lahan pertanian yang sudah dimiliki petani dan memanfaatkan waktu kerja mereka semaksimal mungkin.
Dalam “Dialog” ini perlu kita catat pandangan Menteri Muda Urusan Produksi Pangan, Ir. Achmad Affandi yang melihat justeru subsidi pangan itu sebaiknya dihapuskan walaupun secara bertahap. Redaksi
Produksi Beras Masih Salah Arah, M. Satari, Guru Besar Institut Pertanian Bogor.
Dalam Repelita ketiga ataupun yang keempat disebutkan bahwa sentral pembangunan pertanian sebenarnya adalah petani itu sendiri. Salah satu tujuannya adalah meningkatkan produktivitas petani, meningkatkan kesejahteraannya atau yang paling mudah sebut saja pendapatannya. Upaya yang ditempuh antara lain meningkatkan hasil per satuan lahan dan per satuan waktu, kemudian mendistribusikan tenaganya semaksimal mungkin sepanjang tahun. Kalau satu tahun itu sekitar 350 hari, dan kalau bisa memanfaatkan tenaga petani itu 60 persen saja dari 350 hari, maka akan ada tambahan pendapatan. Pendapatan petani tidak harus dari lahan sendiri, bisa juga dari usaha lain. Jadi pendekatan itu memang tidak hanya terbatas pada usaha pertanian. Dalam strateginya, harus diusahakan petani itu memiliki pekerjaan sepanjang tahun. Jadi buruh dari petani lain juga boleh, kalau lahannya memang kecil.

Subsidi Pangan Harus Dihapus, A. Affandi, Menteri Muda Urusan Produksi Pangan
Kebijaksanaan pangan sering disalah tafsirkan. Yang dimaksud subsidi pangan adalah subsidi daripada penjualan, misalnya kalau biasanya kita mengimpor gandum dengan harga 100 dollar dan harus dijual dengan harga 60 dollar, maka yang 40 dollar itu subsidi pemerintah yang diberikan kepada rakyat kita. Juga kalau mengimpor beras sekitar satu atau dua juta ton dan dijual dengan harga murah maka ongkos-ongkos gudang dan ongkos-ongkos lain yang dikeluarkan oleh BULOG itu merupakan subsidi. Tetapi sampai saat ini suasananya sudah berubah, kita tidak perlu impor justeru kalau bisa ekspor.
