.
Sejak Pelita I Indonesia menempuh kebijaksanaan pinjaman luar negeri secara hati-hati. Titik berat diletakkan pada hutang bersyarat lunak. Baru setelah perekonomian berkembang dan pendapatan rakyat per kapita meningkat maka Indonesia mulai lebih banyak memakai dana komersial. Menurut Sanjoto Sastromihardjo, pemakaian dana luar negeri makin bervariasi sejak awal Pelita III tatkala pendapatan per kapita melewati $ 500 setahun. Bantuan program, terutama bantuan pangan, dikurangi dan dihentikan sama sekali sejak 1982/83. Bantuan proyek juga menurun akibat “boom” minyak bumi yang memaksa kita lebih menggunakan dana komersial.