Prisma

Swasembada Pangan

Sungguh aneh di negara maju seperti Rusia orang-orang berdasi antri untuk mendapatkan 2-3 potong roti. Dulu negara ini memiliki kekuatan militer yang tangguh, termasuk nuklir yang mampu memusnahkan manusia. Tapi setelah Uni Soviet pecah menjadi negara-negara baru, termasuk Rusia, citra sebagai negara adidaya yang kaya itu kini runtuh. Soal ketersediaan pangan bagi masyarakatnya pun tak mampu dipenuhinya. Rakyat kembali ke masa silam: mereka antri makanan.

Orang antri beras pun pernah terjadi di Indonesia, misalnya pada medio 1960-an. Berjam-jam orang-orang antri hanya untuk mendapatkan 1-2 liter beras. Masih untung kalau kebagian, sebab biasanya persediaan beras di pasar cepat ludes pada hari itu. Mereka harus menunggu sampai besok, lusa dan hari-hari berikutnya. Rakyat kekurangan bahan pangan; Indonesia menjadi pengimpor beras terbesar di dunia.

Swasembada beras 1984 merupakan tonggak penting prestasi bangsa Indonesia untuk memerangi masalah kekurangan beras. Program intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian telah mampu meningkatkan produksi beras. Pada masa selanjutnya suasana kekurangan beras telah terlewati menjadi suasana kelebihan. Stok beras BULOG tersimpan di gudang-gudang. Naik turunnya harga beras dikendalikan agar tetap terjangkau pendapatan masyarakat. Persediaan beras menjadi stok pangan yang handal dan membentengi masyarakat dari ancaman kekurangan dan meroketnya harga berbagai komoditi pangan.

Namun beras bukanlah satu-satunya bahan baku pangan kebutuhan masyarakat. Dinamika masyarakat telah membangkitkan selera dan tuntutan baru terhadap keanekaragaman pangan. Pangan nonberas menjadi komoditi penting bagi masyarakat Indonesia sekarang dan di masa depan. Kebutuhan pangan nonberas pun meningkat tajam. Karena kemampuan produksi dalam negeri tak cukup maka perlu suntikan impor pangan dalam jumlah besar.

Swasembada pangan tampaknya merupakan suatu keharusan. Swasembada beras tanpa swasembada komoditi pangan lain agaknya terasa pincang dan bisa mengakibatkan kerawanan. Laju pembangunan dapat terseok bila swasembada pangan masih di awang-awang. Impor pangan memang merugikan, apalagi persediaan devisa terbatas. Impor pangan gampang dilakukan, namun impor selera makan sangatlah keterlaluan. Di tengah globalisasi taste makanan asing, tampaknya kita perlu mengangkat citra makanan khas nasional. Barangkali perhatian terhadap makanan nasional Indonesia perlu digalakkan. Pada saat kita menyambut Hari Pangan Sedunia ke-XIII ini: Apa tonggak baru yang perlu kita tancapkan? Penganekaragaman dan swasembada pangan; tiada hari tanpa prestasi, tiada prestasi tanpa gizi; dan aku cinta makanan khas Indonesia.

———————————————————————————————

Pemimpin Umum: Arselan Harahap; Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad; Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, Ismid Hadad, Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz, Paulus Widiyanto; Redaktur Pelaksana: Paulus Widiyanto; Staf Redaksi: E. Dwi Arya Wisesa, Harry Wibowo; Sekretaris Redaksi: Eriko Sustia; Pemimpin Perusahaan: Maruto MD; Wakil Pemimpin Perusahaan: Arys Sutarman; Pemasaran/Distribusi: Anda Z. Noerzy, M. Sholeh; Iklan: Arys Sutarman; Produksi: Bambang Soetedjo, Awan Dewangga, Yahya Sukaria, Idjas Saham, Teguh Supriyanto

Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301-6269. SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/ SIUPP/ D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420; Telepon Redaksi: 5663525, Pemasaran/Iklan: 5663527; Umum: 5667139, 5667141, 5674211; Fax.: (021) 5683785; Kotak Pos 6275/11062, Jakarta 11420. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta, Nomor Rekening 14.0010.2.003, Pencetak: PT. Temprint.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan