B.J. HABIBIE tidak sendirian dalam kekesalannya kepada para ekonom. Seperti halnya para insinyur dan ahli teknologi lainnya, dia ingin cepat bertindak mewujudkan sesuatu yang kongkrit, dan selalu merasa tak sabar menunggu keputusan para ekonom yang biasanya sarat dengan berbagai proses pertimbangan hingga seringkali terlambat mewujudkan momentum pembelian atau penggunaan teknologi baru yang diusulkan teknologi lokal. Tak heran, insinyur seringkali mengejek ekonom dan ahli ilmu sosial lainnya dengan ucapan, “Kalian terlalu banyak omong, dan tak jelas apa hasil kerjanya. Kami orang-orang praktis yang tanpa banyak omong mau dan mampu berbuat sesuatu yang kongkrit, ingin cepat bertindak!” Sang ekonom biasanya membalas, “Ya, gara-gara perbuatan kalian yang tanpa banyak omong itu maka perekonomian kita jadi bangkrut!”
Kekhawatiran ekonom itu timbul bukan saja karena gejala kurangnya kesadaran orang teknik akan soal biaya atau karena mahalnya harga teknologi moderen. Juga kekhawatiran tersebut bukan hanya muncul di negeri “orang Melayu” dan pada waktu belakangan ini saja. Kendati revolusi industri membuktikan peranan teknologi sebagai faktor penentu pertumbuhan ekonomi Eropa Barat, namun sejak abad XVIII itu teori ekonomi klasik tetap menganggap hanya tanah, tenaga kerja dan modal saja sebagai “faktor produksi”. Bahkan di AS hingga 1970-an kalangan ahli masih memperdebatkan perlu tidaknya memperlakukan faktor teknologi sebagai variabel khusus dalam teori ekonomi dan perdagangan internasional.
Adakah kekhawatiran itu beralasan? Apakah perlu sikap yang begitu berhati-hati terhadap teknologi? Bukankah penggunaan teknologi merupakan prasyarat mutlak bagi pembangunan dan modernisasi setiap negara dan bangsa di dunia abad ini? Bahwa teknologi merupakan alat dan wahana yang ampuh bagi pembangunan suatu bangsa, jelas tak perlu dipersoalkan lagi. Namun, bahwa teknologi bukanlah alat atau wahana yang netral, memang banyak yang belum sadar. Sebagai alat, teknologi adalah pelayan yang baik bagi kepentingan majikan yang menciptakan atau menguasainya. Pelayan itu juga tak mungkin memberi manfaat dan kepuasan yang sama kepada semua pihak yang memakainya. Alat itu hampir selalu cenderung memberi manfaat lebih bagi mereka yang mampu mengambil risiko, yang berarti kelompok mereka yang lebih kaya dan berkuasa. Bahkan alat atau teknologi yang diciptakan untuk membantu semua orang tanpa pandang bulu sekalipun, tetap saja cenderung lebih menguntungkan si kaya.
Ambil saja contoh teknologi “bibit unggul” yang menghasilkan ‘Revolusi Hijau’ di bidang pengadaan pangan rakyat negara-negara sedang berkembang, yang kenyataannya lebih dimanfaatkan oleh petani yang mampu membeli pupuk, pestisida dan pengairan. Sementara mayoritas petani miskin di pedesaan tetap saja bergelut dalam hutang untuk membayar kembali harga teknologi baru, pupuk dan pestisida, yang setiap kali harus mereka beli dari kota dengan harga yang cenderung meningkat terus. Dunia Ketiga dewasa ini penuh dengan contoh kasus-kasus teknologi baru yang bukan membantu tapi justeru makin menyulitkan kehidupan masyarakat berpenghasilan rendah di pedesaan dan kampung-kampung perkotaan, karena teknologi baru itu mengurangi kesempatan kerja mereka, atau memprodusir barang-barang lebih unggul dan lebih murah yang selama ini justeru merupakan sumber nafkah para pekerja tradisional. Maka selama masih terdapat kesenjangan sosial dalam masyarakat, selama itu pula perlu sikap hati-hati dalam memilih teknologi baru. Teknologi baru tidak akan berpihak kepada kelompok masyarakat yang miskin. Sebagai pelayan yang baik, ia hanya memilih majikan yang kuat dan kaya.
Aspek lain dari kegandrungan pemakaian teknologi baru yang sering diabaikan para teknolog lokal ialah anggapan seolah-olah dengan menguasai prinsip-prinsip dasar, teknik dan metode penggunaannya, mereka dengan sendirinya akan memperoleh manfaat dan hasil teknologi yang sama dengan yang diperoleh negara pembuatnya. Karena itu yang mereka pentingkan ialah adanya transfer (alih) teknologi. Seakan-akan dengan adanya program latihan yang menjamin terjadinya alih teknologi, maka teknologi baru itu akan otomatis mudah dikuasai. Mereka sering tak sadar bahwa di balik metode dan teknik penggunaan teknologi tersebut terdapat segumpal sistem budaya, sederet nilai-nilai sosial dan sejumlah kepentingan ekonomi masyarakat dan negara di mana teknologi itu dikembangkan. Gumpalan sistem dan nilai budaya asing tersebut tidak bisa semuanya dicangkokkan begitu saja ke dalam sistem masyarakat kita, bahkan dengan program ‘alih teknologi’ yang paling intensif sekalipun. Kalaupun bisa dicangkok, selain butuh proses dan waktu yang lama, juga tak mungkin menyerap seluruh sistem dan nilai asalnya hingga perlu ditumbuhkan dulu pranata sistem dan kelembagaan setempat yang mampu menunjang pengembangan teknologi baru itu di lingkungan masyarakat kita.
Dengan kata lain, alih teknologi saja tidak cukup menjamin terjadinya modernisasi dan pembangunan secara riil. Sekedar transfer atau alih teknologi pun tak akan mampu kita wujudkan dengan hanya mengusahakan program latihan dan menjamin investor dengan undang-undang hak milik intelektual. Apabila kita benar-benar mau memiliki dan menguasai teknologi maju bagi kesejahteraan seluruh rakyat, maka kita harus siap mentransformasikan penggunaan dan pengembangan teknologi moderen ke dalam sistem sosial dan budaya masyarakat kita. Transformasi itu menyangkut penyiapan sistem, sarana dan kelembagaan di tingkat keluarga, perusahaan, daerah pedesaan maupun kota-kota besar, serta juga di tingkat perumusan kebijaksanaan nasional dan hubungan internasional. Agar lebih cepat dan memberi dampak menyeluruh, mungkin perlu didahului upaya pengembangan teknologi tepat-guna di bidang komunikasi dan pendidikan. Pokoknya, persiapan interen masyarakat kita sendiri menjadi lebih penting daripada pengalihan teknologi itu dari luar negeri. Itu berarti, sebagai bangsa, kita harus lebih dahulu paham dan siap benar untuk apa transformasi teknologi itu kita lakukan, dan untuk siapa teknologi baru akan dikembangkan. Kalau tidak, kita sebenarnya sekedar mengalihkan dan mengembangkan teknologi yang hanya setia melayani kepentingan majikannya yang bertahta di negara lain.