Pengantar
Jika masalah kesempatan kerja dan pengangguran sering dipandang sebagai persoalan besar dan pelik, untuk sebagian orang yang langsung berhadapan dengan masalah tersebut, kadang-kadang ia dilalui tanpa diganggu kerisauan.
Prisma kali ini berdialog dengan lima orang yang dalam pengalamannya dari hari ke hari menghadapi persoalan itu. Dari mereka tercermin bahwa tak ada kekhawatiran tentang kepastian kerja yang mereka peroleh. Paling tidak, pengakuan seperti itu terdengar dari Dana Indra Asmara dan Fudholi.
Indra, 30 tahun, dengan menanggung satu isteri dan lima anak, kini mengandalkan nafkahnya pada pekerjaan sebagai pembantu juru parkir di Jl. Cikini Raya, dan sekali-sekali menjadi kuli pada sebuah perusahaan di daerah yang sama. Fudholi, tak pernah cemas meskipun dia tidak punya pekerjaan tetap yang dapat memberi jaminan nafkah secara pasti. Kedua orang ini berpindah pekerjaan beberapa kali. Jenis pekerjaan yang ditinggalkan, adalanya berbeda jauh dengan yang baru dimasuki. Fudholi misalnya, tidak merasa canggung untuk mengubah urusan sebagai pemasang listrik di sebuah kantor besar menjadi tukang jahit sarung tangan. Pergantian berikutnya pun dia jalani tanpa persoalan, ketika harus menjadi penjual layang-layang beserta benangnya.
Indra dan Fudholi berganti dan pindah pekerjaan di Jakarta. Di luar Ibukota, di dua desa yang pada umumnya warganya hidup di sektor pertanian, dua orang yang lain berusaha mencari pilihan baru. Naryono, seorang pemuda yang hanya memiliki ijazah SD dari sebuah desa di daerah Cirebon, pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Sri, ibu tiga anak yang ditinggalkan suaminya setelah menghilang begitu saja, tidak melihat kemungkinan baik buat menghidupi keluarganya di daerahnya, sebuah desa di daerah Tegal. Naryono didorong oleh perasaan bahwa pekerjaan petani terlalu melelahkan, sedangkan Sri meninggalkan desanya didesak oleh kemiskinan. Kedua orang ini ke Jakarta siap bekerja untuk jenis apa saja. Mereka berangkat tanpa suatu jaminan bahwa di situ memang ada lowongan yang tengah menunggunya. Dan di Jakarta, keduanya memasuki lapangan kerja apa adanya.
Tetapi seorang calon pekerja yang lain gagal test delapan kali. Dengan memegang ijazah sekolah lanjutan atas dan berkali-kali berusaha menemukan lapangan yang dapat menampungnya, muncul kekhawatiran dalam dirinya. Wawang Sudirman, 26 tahun, melihat bahwa kini pekerjaan baginya adalah suatu keharusan.
Yang diperlihatkan Wawang, dan yang dijalani empat orang lainnya tadi tampak berbeda. Naryono dan Sri datang ke Jakarta, siap untuk menemui keadaan apa saja. Di Ibukota sendiri, Fudholi dan Indra dengan berpindah dan berganti kerja, nafkahnya selalu ada. Di dalamnya tak ada kekhawatiran akan jaminan terhadap nafkah, dan juga tak ada kecemasan akan ketetapan lapangan kerja. Kenyataan yang mereka rasakan barangkali agak berbeda dengan teori yang selama ini pernah diutarakan untuk masalah tenaga kerja. Redaksi.
Segan untuk Bertani
Hingga 19 April 1982, baru delapan hari Naryono bekerja di bengkel mobil Samora, di daerah Kampung Melayu, Jakarta Timur. Pemuda kelahiran Kampung Tirtamulya, desa Jalatrang, Subang, Kuningan, Jawa Barat ini, kini berusia 17 tahun. Dia datang ke Jakarta akhir 1981 yang lampau. Katanya, “Untuk mencari pengalaman kerja.” Di bengkel Samora sekarang, pendapatannya Rp 1.000 sehari. Kerjanya di sana hanya membantu montir, mengamplas mobil yang sedang dicat, juga mencuci kendaraan.

Mencari Kerja Memerlukan Uang Semir
Indra pernah mendekam dalam kamar tahanan polisi Komando Wilayah 74 selama 2,5 bulan karena dicurigai terlibat dalam pengedaran morfin. Tapi, katanya, karena tidak bersalah, akhirnya dia dilepas kembali. Ayah lima anak, dengan nama lengkap Dana Indra Asmara ini, kini baru berusia 30 tahun. Ibunya seorang wanita Sunda, sedangkan ayahnya, Agus Indro Mulyono (almarhum), bekerja sebagai pelukis, berasal dari Solo.

Tak Khawatir Jadi Penganggur
“Saya mau diajak bekerja apa saja. Berdagang juga bisa,” kata Fudholi, pemuda 26 tahun. Warga RT 06, RW 03, Kelurahan Bukit Duri, keturunan Jakarta asli ini memang telah mencoba berbagai macam pekerjaan sejak dia berhenti bersekolah ketika duduk di kelas tiga Sekolah Dasar, 1966 yang lalu. Kini Fudholi tak memiliki pekerjaan tetap.

Di Kampung Susah Menghidupi Anak-anak
Sri, 20 tahun, ibu dari tiga anak meninggalkan tempat kelahirannya kampung Sukatengah Krajan, Tegal, ke Jakarta mencari pekerjaan. Suaminya, Sahlani, sejak tiga tahun yang lalu “menghilang”. Waktu itu, Sahlani pamit untuk ke Jakarta. Sahlani memang telah punya pengalaman mencari nafkah di Ibukota. Dia menetap di Pondok Pinang. Setiap hari dia menjajakan bangku, tempat tidur dan kursi kayu.

Menganggur Membuat Orang Jadi Pemarah
Sejak lulus dari sekolah lanjutan atas tahun 1979 yang lalu, Wawang Sudirman sudah delapan kali mengajukan lamaran bekerja dan mengikuti test sebagai calon pegawai. Lima lamaran dan lima kali test dicobanya pada perusahaan swasta. Empat dari perusahaan itu adalah produsen kendaraan bermotor, dan satu lagi perusahaan elektronik. Tiga lamaran dan tiga kali test yang lain dijalaninya di Badan Administrasi dan Kepegawaian Negara (BAKN). Tapi anak muda 26 tahun ini tetap tak memperoleh pekerjaan hingga kini. “Dari dulu, saya memang bercita-cita jadi pegawai negeri,” katanya.
