Prisma

Tiga Hari dalam Sejarah Pergerakan Nasional

(Beberapa catatan terhadap: ‘Laporan Kongres Pemuda Indonesia di Jakarta 1926’, Kata Pengantar oleh M. Tabrani dan Pendahuluan oleh Abdurrachman Surjomihardjo, Takari, Jakarta, 1981, 129 halaman).

Penerjemahan Verslag van het Eerste Indonesisch Jeugdcongres ke dalam bahasa Indonesia yang baik pada tahun 1981 sudah barang tentu menimbulkan pertanyaan. Pertemuan sekelompok kecil pemuda tahun 1926 yang hanya berlangsung selama tiga hari (30 April sampai 2 Mei) telah mampu membuahkan pikiran-pikiran yang menjadi fondasi bagi monumen sejarah bangsa Indonesia dua tahun kemudian yaitu Sumpah Pemuda. Orang tak bisa dipersalahkan untuk bertanya: kenapa harus menunggu selama 55 tahun untuk membaca laporan (verslag) pertemuan pemuda itu dalam bahasa sendiri? Keteledoran para sejarawankah, atau para politisi yang mengira bisa berpolitik tanpa memiliki kesadaran sejarah, atau ketidakpedulian para eksponen sejarah di tahun 20-an yang tidak mau mengambil prakarsa untuk mengumumkannya? Pertanyaan retoris semacam itu mungkin terpaksa dikemukakan untuk menggaris-bawahi betapa dokumen sejarah yang primer itu terlalu berharga untuk dilupakan. Keterlambatan 55 tahun bisa saja disesali, namun ‘Laporan Kongres Pemuda Indonesia Pertama, di Jakarta tahun 1926’ tetap tak bisa diingkari sebagai salah satu tahap perkembangan dari benih-benih yang menentukan ujud serta eksistensi Indonesia yang ada sekarang ini.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan