Prisma

Timur Tengah: Panorama Pergolakan Tak Kunjung Berhenti

I

Dalam filsafat telah lama diterima ajaran tentang satu-satunya hukum tetap yang berlaku dalam kehidupan: tidak adanya ketetapan itu sendiri. Barangkali tidak ada tempat di mana ajaran ini dapat diterapkan lebih nyata daripada kawasan Timur Tengah. Perubahan sebagai variabel tetap dalam kehidupan kawasan tersebut tampak menonjol, dengan segala manifestasinya dalam semua aspek kehidupan dan segenap akibatnya bagi konstelasi percaturan politik dunia. Ini dapat dilihat nyata dari perkembangan terakhir di Iran, pergolakan antara berbagai sekte Islam di Turki dan tahap-tahap menentukan yang dilalui oleh prakarsa perdamaian antara Mesir dan Israel dewasa ini. Kalau seorang pengamat politik terkemuka menamai Afghanistan sebagai “kawah pertentangan”, maka kawasan Timur Tengah patutlah disebut sebagai panorama pergolakan yang tak kunjung berhenti.

Manifestasi yang nyata dari tema pergolakan yang berlangsung secara menetap ini dapat dilihat dalam dua kenyataan berikut: “fungsi” kawasan Timur Tengah dewasa ini sebagai wadah konflik antara superpowers, dan sebagai wadah konflik ideologis antara negara-negara dan bangsa-bangsa yang mendiaminya. Konflik antara negara adidaya tampak nyata sekali peranannya dalam sengketa Arab-Israel yang telah berlangsung puluhan tahun lamanya. Pada mulanya, sengketa yang terjadi adalah perbenturan kepentingan antara berbagai pihak, yaitu antara Inggeris, Perancis dan Uni Soviet segera setelah usainya Perang Dunia II. Inggeris yang mencoba mencari titik penyelesaian bagi keinginannya untuk tetap menguasai wilayah Palestina sambil dapat menampung aspirasi bangsa Yahudi yang tergabung dalam gerakan Zionisme dan menginginkan berdirinya negara Israel, memandang dengan penuh kecurigaan kepada langkah-langkah Uni Soviet di utara Iran, di mana mereka mencoba mencaplok wilayah Adzerbaijan. Inggeris mendukung upaya Shah Iran Reza Pahlevi untuk memukul mundur pasukan-pasukan Rusia dari wilayah negaranya itu. Upaya itu berhasil, dan sebagai akibat Uni Soviet lalu mengambil sikap menentang upaya Inggeris untuk mencari penyelesaian di wilayah Palestina. Sikap itu terus dilanjutkan ketika sepuluh tahun kemudian Amerika Serikat mengambil pimpinan Dunia Barat (yang untuk kawasan Timur Tengah merupakan akibat dari kegagalan Inggeris-Perancis untuk menundukkan Gamal Abdel Nasser dalam Perang Suez di tahun 1956). Setiap kesalahan langkah yang diperbuat pihak Barat dalam mengambil sikap mengenai kemelut demi kemelut yang terjadi di kawasan Timur Tengah dieksploitir oleh Uni Soviet untuk kepentingannya sendiri, dan sedikit demi sedikit ia berhasil menancapkan pengaruhnya di kawasan itu.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan