Abdul Latief memahami kiat bisnis sejak duduk di bangku SMA, berdagang telur dan bawang ketika masa libur. Kini dia disebut orang sebagai raja retail business Indonesia. Dia punya cita-cita di bidang industri dan pengembangan ekonomi nasional, dengan memanfaatkan sumber-sumber yang ada di tangan rakyat.
Redaksi*
KETIKA menyaksikan ratusan ribu manusia berkerumun mendengarkan Bung Karno berpidato pada tahun 1962, Abdul Latief, sebagai mahasiswa Akademi Pimpinan Perusahaan (APP), berpikir, “Apa kerja manusia sebanyak itu, dan kenapa mereka tak melakukan sesuatu yang produktif?” Tahun berikutnya dia menjadi pegawai Sarinah Department Store, yang bertugas mempelajari industri Indonesia. Sepuluh tahun kemudian dia memulai bisnisnya sendiri yang mencoba menaruh akarnya pada kegiatan industri rakyat. Kini, Abdul Latief adalah satu di antara sedikit pengusaha nasional yang harus diperhitungkan. “Sarinah Jaya” yang dia hidupkan dari nol, setelah 13 tahun, sekarang menjadi department store terbesar di Asia Tenggara, dengan sale space seluas 70 ribu meter persegi, yang dikunjungi 50 ribu orang rata-rata setiap hari.
Sebagai orang yang memiliki latar belakang pendidikan akademis untuk menejemen industri yang kemudian mendalami bidang marketing dan corporate plan, Direktur Utama perusahaan yang tergabung di dalam grup Sarinah Jaya ini dikenal sebagai penjual yang cerdik mencari pasar. “Mencari duit harus dari orang berduit,” kata Latief. Dan tampaknya dia sadar sekali betapa kecilnya segment pasar yang jadi sasarannya. Karena itu dia sangat hirau akan image untuk department store yang dikelolanya ini, mulai dari teks iklan dalam media, memilih komposer dan penyanyi untuk jangle Sarinah Jaya, lay out ruangan toko,
* Pengumpulan bahan dan interview untuk penulisan artikel ini dilakukan oleh Achmad Soemawisastra dan Edward S. Simandjuntak.

