Prisma

Tradisi Keilmuan Islam dan Puisi Zikir


Pengantar

Perkembangan Islam di Indonesia, menurut Dr. Kuntowidjojo, kini sampai pada periode ide atau periode ilmu. Formulasi normatif al-Qur’an dan Hadis, kini menjadi formulasi teoritis dan berkembang menjadi disiplin ilmu, beserta program aplikasinya. Walau begitu, sejarawan lulusan Columbia University, Amerika Serikat ini, melihat bahwa perkembangan periode ilmu tersebut belumlah sempurna betul.

Peralihan kesadaran masyarakat dari periode mitos ke periode ideologi dan seterusnya ke periode ilmu, menurut Kuntowidjojo, merupakan peningkatan kesadaran. Dia tidak khawatir akan hilangnya semangat populis dan memudarnya orientasi umat Islam dalam periode ide tersebut. Malah, katanya kita akan bisa menangkap Islam secara lebih cermat. Pengajar pada Fakultas Sastera dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada ini tidak melihat pergantian periode ideologi menjadi periode ilmu sebagai suatu usaha lari dari kenyataan politik yang ada. Itu katanya, adalah usaha untuk memecahkan jalan buntu.

Kuntowidjojo berbicara dari segi perkembangan sejarah. Taufiq Ismail, yang juga berbicara lewat “Dialog” kita kali ini membicarakan keislaman lewat kesusasteraannya: puisi. Taufiq menyebut, baginya standar estetika terpokok dalam puisi-puisinya ialah “apakah karya itu mengingatkan orang kepada Yang Maha Pencipta, atau tidak”. “Kesenian saya,” kata penyair ini, “adalah kesenian zikir.” Dan menurut Taufiq, dia melakukan itu sebagai Muslim yang kaaffah, Muslim yang total, yang seluruh kehidupannya berada dalam Islam. Ia tak bisa sepenggal-sepenggal. Ia harus ada dalam kita bermasyarakat dan berlingkungan. Dan menurut Taufiq Ismail, keseniannya pun harus berada dalam Islam — seni yang membuat orang untuk senantiasa ingat kepadaNya. Redaksi

Islam sebagai Suatu Ide, Kuntowidjojo, Sejarawan, pengajar pada Fakultas

Sastera dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Saya membagi perkembangan Islam di Indonesia menjadi tiga periode: zaman mitos, ideologi, dan periode ide atau ilmu. Periodesasi ini dibuat berdasarkan sosiologi pengetahuan, yakni dengan melihat bentuk-bentuk kesadaran umat dalam suatu masa. Pada zaman mitos, umat memiliki kepercayaan mistis-religius, sehingga dasar pengetahuan waktu itu menjadi mitos. Kita ingat, dalam abad XIX sering terjadi gerakan radikalisme agraria. Mitos Ratu Adil misalnya, merupakan cita-cita pemberontakan akibat penjajahan dan kemiskinan dalam masa tersebut. Umat waktu itu menginginkan lahirnya suatu kerajaan utopia. Tapi mereka tidak tahu bagaimana menuju ke sana dan tak tahu persis apa yang harus dilakukan. Zaman mitos tersebut — dengan membuat pembagian waktu secara kasar — berlangsung kira-kira sampai tahun 1900.

Sastera Saya, Sastera Zikir, Taufiq Ismail, Penyair

Ekspresi kultural Islam dalam kesenian di negeri kita sekarang bisa terlihat, baik dalam drama, tari, filem, maupun kesusasteraan dan pada seni lainnya. Ekspresi tersebut ada. Dari para seniman, secara individual, ia bisa terlihat.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan