Douglas Miles. Cutlass dan Bulan Sabit: Studi Kasus dalam Perubahan Sosial dan Politik di Indonesia Luar. Sidney: Universitas Sidney, Pusat Studi Asia, 1976.
Buku Douglas Miles adalah sumbangan penting bagi khasanah penelitian antropologis Indonesia. Sumbangan tersebut semakin penting lagi karena yang diulas adalah kelompok-kelompok sosial di luar Jawa yaitu suku Dayak Ngadju dan Melayu Banjar. Dia menolong untuk mengembalikan keseimbangan dari studi-studi yang senantiasa “Jawa sentris”.
Cutlass and Crescent Moon menampilkan 3 tema pokok. Tema pertama, mendiskusikan proses perubahan sekelompok anggota suku yang menjadi petani. Tema yang lain meneliti penyebaran Islam di kalangan suku bangsa yang oleh Miles dilukiskan sebagai “suku bangsa kafir”. Tema ketiga dan yang utama mendiskusikan konsep tradisional, yang menjadi postulat Max Weber dan ahli lain (seperti Boeke) bahwa tradisionalisme Asia adalah rintangan bagi pertumbuhan ekonomi. Inilah tema yang akan dibahas dalam tinjauan ini.
Bagi Miles, alasan fatalisme Timur dan rintangan bagi pertumbuhan ekonomi merupakan suatu ungkapan yang terlalu mau memukul rata segala-galanya. Sebagai gantinya dia membuat suatu pembedaan penting: Untuk menentukan respons yang mungkin diberikan bangsa-bangsa Asia terhadap perubahan-perubahan semacam itu, adalah penting untuk membedakan antara mereka yang tradisinya menjadi unsur dari struktur yang tidak fleksibel dan mereka yang mempertahankan pilihan individu, baik dalam keanggotaan dalam suatu kelompok dan jenis pekerjaan (hal.144).
Dalam halnya Dayak Ngadju, maka struktur sosialnya adalah dari jenis yang kedua di mana ada pilihan bebas bagi keanggotaan di dalam masyarakat. Faktor pilihan tersebut di dalam masyarakat tradisional Dayak Ngadju memperkenankan seorang untuk memeluk agama Islam, suatu agama utama di lingkung-an bandar-bandar tersebut, dalam menanggapi kesempatan-kesempatan ekonomi.
Di dalam analisanya tentang masyarakat Dayak Ngadju, Miles mempergunakan continuum Redfield yaitu kebudayaan suku, petani, dan elite kota di mana diterima asumsi bahwa kemajuan dan perubahan sosial adalah gerakan linear dari yang pertama kepada yang berikutnya. Untuk menganalisa perubahan sosial, ekonomis dan politik, Miles sangat berhasil mempergunakan metode heuristik di mana dibuat pertengahan secara tajam. Dia membandingkan suku Dayak Ngadju, suatu suku bangsa yang bermukim di gunung-gunung, mempraktekkan sistem pertanian berpindah-pindah dan pemukimannya tersebar di pondok-pondok dalam ladangnya menurut hakekat sistem produksinya, dengan orang-orang pantai Melayu Bandjar yang tinggal di bandar-bandar yang mengembangkan pemukiman berkelompok karena mereka mampu memperoleh kerja di luar bidang pertanian selama musim-musim longgar dalam pertanian. Bilamana masyarakat Dayak Ngadju “terbuka” dengan pengelompokan kekeluargaan yang fleksibel, pandangan keagamaan yang pragmatis, dan tidak ada cita-cita ekonomis khusus, maka suku bangsa Melayu Bandjar agak “tertutup” dengan identifikasinya yang kuat terhadap Islam dan etnisitas serta pelaksanaan ritus yang ketat, dan juga dipertandai oleh spesialisasi ekonomis di dalam lingkaran pasar. Keterbukaan sistem Dayak Ngadju terbukti di dalam kenyataan bahwa dia memperkenankan anggota-anggotanya untuk memeluk agama Kristen dan Islam. Ada banyak kasus juga di mana orang-orang Kristen Ngadju Dayak kembali memeluk agama “kafir”.