Pengalaman Taiwan menunjukkan bahwa transformasi ke arah industrialisasi dapat dijalankan hanya dengan menyediakan kondisi landasan yang kukuh, yakni reformasi agraria dan reformasi pedesaan yang mampu mengikutsertakan sektor tradisional ke dalam arus pertumbuhan sehingga tidak terjadi polarisasi. Intervensi negara dalam kegiatan ekonomi juga merupakan faktor signifikan dalam pembangunan ekonomi berorientasi pasar yang dijalankan Taiwan.
PEMBANGUNAN ekonomi di Taiwan mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam dua generasi kepemimpinan terakhir di bawah presiden Chiang Kai-Shek dan Chiang Ching-Kuo. Tidak banyak pengamat yang memperhitungkan Taiwan sebelumnya sebagai calon negara industri baru. Bahkan Rostow pun dalam bukunya yang sangat populer – The Stages of Economic Growth (1965) – tidak menyinggung Taiwan sedikit pun di dalam kelompok negara-negara yang diperkirakan akan masuk jajaran negara industri. Sebaliknya, pembahasan Rostow justru mengantisipasi India dan Cina akan termasuk ke dalam kelompok tersebut dalam dua dekade terakhir ini.
Hanya dalam tiga dekade Taiwan berhasil mengubah wajah ekonominya, dari negara yang agraris menjadi negara industri baru. Strategi promosi ekspor yang ditetapkannya pada saat ini tidak lepas dari strategi-strategi yang dilakukan sebelumnya ketika ciri-ciri agraris masih mendominasi sistem ekonominya. Strategi pembangunan ekonomi Taiwan bermula dari pembangunan yang menekankan pada bidang pertanian. Proses pengukuhan sektor petani dilakukan sampai sektor ini benar-benar mapan dan siap untuk mendukung proses industrialisasi selanjutnya. Proses transformasi yang mulus seperti ini akhirnya banyak menarik minat negara-negara sedang berkembang lainnya untuk menirunya.