Prisma

V. Pembudayaan Masyarakat Dunia

Baik negara kaya maupun negara miskin menghadapi masalah yang serupa dalam memperbaiki dan membangun suatu masyarakat dunia yang insaniah, karena dunia kita ini merupakan dunia yang terbagi-belah, dirobek-robek oleh fanatisme golongan, pertentangan dalam negeri dan perpecahan bangsa, etnis, kesukuan dan ideologi yang dalam. Belenggu dan halangan dari suatu masyarakat dunia yang terpecah-belah ini menjadi beban berat bagi kita dan satu diantara tujuan hubungan kebudayaan bagi masa depan adalah keharusan untuk menyelesaikannya atas nama ummat manusia. Tidak hanya di dalam bangsa dan komunitas terdapat ketegangan tetapi juga antara nasionalisme dan ummat manusia. Setiap bangsa yang ingin memainkan peranan dalam membangun suatu masyarakat dunia masa depan yang lebih berkemanusiaan haruslah merelatifkan perasaan keunikannya dan ikut serta bersama bangsa lain dalam suatu usaha bersama. Dia harus siap untuk hidup dalam suatu “dunia terbuka”, dan tidak pernah melupakan ke-saling-tergantungnya pada bangsa-bangsa lain. Bagi setiap negara yang besar tantangan ini kena sekali. Mengurangi tuntutan keunikan menyebabkan bangsa manapun juga kehilangan dimensi tertentu dari kekuatan morilnya. Suatu pertanyaan yang harus dijawab adalah bagaimana cara menemukan suatu keseimbangan baru antara keunikan dan hidup bersama. Dengan demikian sekali lagi kita berkonfrontasi dengan masalah-masalah yang langgeng sifatnya, mengenai antinomi dan ambiguitas, dan ketika kita tidak bersikap realistis kita tidak akan berhasil menggariskan patokan-patokan yang berguna.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan