Artikel ini mengelaborasi argumen pemuseuman (museumization) Benedict Anderson dalam konteks warisan dunia Borobudur dengan menggunakan kritik kebudayaan Ignas Kleden. Pemuseuman dilihat sebagai bagian dari proses “menjadi” warisan budaya yang tidak mencerminkan dinamika dan kompleksitasnya. Untuk menggambarkan “pemuseuman” dan “warisan budaya”, artikel ini membahas tiga persoalan, yaitu keberadaan tenaga ahli (arkeolog) dan orang lokal, perkembangan paradigma warisan dunia UNESCO, serta dasar perumusan ruang-waktu universal yang membentuk “dunia” UNESCO.
Kata Kunci: arkeologi, pemuseuman, warisan budaya, sikap ilmiah, kritik kebudayaan