A Rahman Tolleng
A Rahman Tolleng pernah mengenyam bangku
Institut Teknologi Bandung, Jurusan Apoteker (1955-
1959), namun tidak tamat. Sempat terdaftar sebagai
salah seorang mahasiswa Universitas Padjajaran,
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, tetapi juga tidak
selesai. Pada era Orde Lama, dia menjadi buronan
politik karena menentang rezim Nasakom Soekarno.
Sesudah peristiwa Gerakan 30 September 1965, dia
bergabung ke dalam KAMI di Bandung. Mewakili
Sekretariat Bersama Organisasi-organisasi Mahasiswa
Lokal, dia duduk sebagai salah seorang Ketua
Presidium KAMI Pusat.
Pada pertengahan 1966, bersama Riandi dan
Awan Karmawan Burhan, dia memprakarsai
penerbitan sekaligus memimpin mingguan Mahasiswa
Indonesia. Roger K Paget, salah seorang pengamat
pers Indonesia ketika itu, sempat berkomentar,
“berkat mutu dan sikap radikalnya, Mahasiswa
Indonesia dengan cepat memiliki reputasi sebagai
koran intelektual yang banyak dibaca.” Pada 1974,
Mahasiswa Indonesia diberangus rezim Orde Baru.
Menjelang Pemilu 1971, anggota Dewan Perwakilan
Rakyat Gotong Royong (DPR-GR, 1968-1971)
ini, ikut mengambil bagian dalam proses transformasi
Sekretariat Bersama Golongan Karya menjadi
Golkar. Dia pun ditunjuk sebagai Wakil Pemimpin
Redaksi, kemudian Pemimpin Redaksi Harian Suara
Karya, corong Golkar. Selain anggota DPR (1971-
1974), salah satu anggota Dewan Pimpinan Pusat
Golkar ini juga menjabat Sekretaris Jenderal DPP
Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).
Peristiwa 15 Januari 1974 merupakan titik balik
bagi dirinya. Dia dituduh terlibat dalam demonstrasi
menentang kedatangan Perdana Menteri Jepang
Kakuei Tanaka. Rahman Tolleng, bersama sejumlah
intelektual dan pemimpin mahasiswa masa itu, ditahan
selama 16 bulan di Rumah Tahanan Militer Boedi
Oetomo, Jakarta, tetapi kemudian dibebaskan tanpa
melalui proses peradilan. Salah seorang eksponen
Angkatan 1966 yang akrab disapa “Boss” oleh
teman-teman dekatnya sejak meringkuk di RTM
Boedi Oetomo itu, mulai tersingkir dari panggung
politik. Selain di-recall sebagai anggota DPR, dia juga
kehilangan jabatan di DPP Golkar dan DPP HKTI.
Pada awal tahun 1990-an, bersama sejumlah
intelektual serta aktivis, Rahman Tolleng mendeklarasikan
lahirnya Forum Demokrasi (Fordem),
yang selama bertahun-tahun menjadi wadah bagi
sebagian aktivis prodemokrasi. Fordem mengajukan
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai calon
presiden alternatif menggantikan Soeharto. Gus Dur
akhirnya berhasil menjadi Presiden menggantikan BJ
Habibie. Fordem pun lambat-laun menghilang.
Namun, Rahman Tolleng tak kenal menyerah.
“Perjuangan politik adalah perjuangan nilai,” tandas
mantan Ketua Dewan Pertimbangan Fordem ini.