DEPOK, JURNAL PRISMA — Senin (20/10/2025), Daniel Frits Maurits Tangkilisan duduk melingkar bersama tim Jurnal Prisma. Aktivis lingkungan yang lekat dengan perjuangan Karimunjawa ini membedah paradoks pariwisata yang kerap kali menjadi pisau bermata dua bagi masyarakat lokal.
Bagi Frits, pariwisata bukan sekadar tentang angka kunjungan atau keelokan foto di media sosial. Ada ancaman nyata yang membayangi kedaulatan warga atas tanahnya sendiri ketika industri besar mulai masuk tanpa kendali.
Garda Terakhir di Tanah Warisan
Kekhawatiran Frits bukan tanpa alasan. Ia melihat pola yang mengkhawatirkan di banyak daerah tujuan wisata: datangnya investor besar sering kali memicu transaksi lahan yang masif. Warga, yang mungkin tergiur oleh nominal uang cepat, kerap kali melepaskan aset paling berharga mereka tanpa menyadari konsekuensi jangka panjangnya.
Ia menggambarkan sebuah skenario pahit yang ia sebut sebagai transformasi dari “tuan tanah” menjadi “petugas keamanan”.
“Tadi tuan tanah, punya lahan sebesar-besar, punya pulau yang diwariskan turun-temurun, terus ada investor datang mau beli pulaunya, dijual, akhirnya dia jadi satpam,” ungkap Frits. Fenomena ini, menurutnya, mengakibatkan hilangnya warisan bagi generasi mendatang. “Akhirnya anak-anak, cucunya tidak bisa mewaris tanah itu lagi dan harus merantau jadi security bank atau apa.”

Wisata yang Menghargai Warga
Frits mendorong perubahan paradigma bagi para pelancong. Wisatawan sebaiknya tidak hanya datang untuk snorkeling atau berswafoto di pantai, tetapi juga mencari tahu tentang budaya dan kehidupan warga lokal. Menurutnya, membantu perekonomian warga bisa dilakukan dengan cara yang sangat sederhana: menggunakan jasa orang lokal dan menghargai narasi mereka.
“Cari tahu tentang budaya lokal, ada tidak yang mengadakan tour atau wisata budaya. Tanya sama warga di mana pun juga, cari cerita lokal dari guide-nya. Dengan itu, kita bisa bantu perekonomian mereka,” tambahnya.
Diskusi ini menjadi istimewa karena bagi Jurnal Prisma, yang telah terbit sejak 1971, edisi wisata kali ini merupakan kali pertama mereka mengangkat tema tersebut secara khusus. Daniel Frits hadir memberikan perspektif kritis bahwa wisata harus menjamin kelangsungan lingkungan hidup serta kedaulatan masyarakat adat.
Ia meyakini bahwa warga lokal sebenarnya mampu mengembangkan potensi mereka sendiri tanpa harus menggantungkan nasib sepenuhnya pada modal besar yang berisiko menyingkirkan mereka dari tanah kelahirannya.
Edisi Perdana Setelah Setengah Abad
Diskusi ini menjadi tonggak sejarah tersendiri bagi Jurnal Prisma. Rahadi T. Wiratama dari tim redaksi mengungkapkan bahwa sejak pertama kali terbit pada tahun 1971, Prisma belum pernah secara khusus mengangkat tema wisata sebagai laporan utama tunggal, meskipun isu terkait lingkungan dan konflik agraria telah sering dibedah.
Langkah Prisma mengangkat edisi wisata pada awal 2026 bertujuan untuk menggugah para pemangku kepentingan agar tidak hanya mengejar pertumbuhan industri, tetapi juga menjamin kelangsungan lingkungan hidup serta kedaulatan masyarakat adat dan komunitas lokal.
Pertemuan tersebut ditutup dengan kesimpulan kuat: kedaulatan masyarakat lokal adalah fondasi dari pariwisata yang berkelanjutan. Tanpa kesadaran warga untuk mempertahankan tanahnya dan tanpa kemauan wisatawan untuk menghargai budaya lokal, pariwisata hanya akan menjadi sebuah industri ekstraktif yang meninggalkan luka di tanah yang indah.
(Redaksi Prisma)