Prisma

Datuk Seri Anwar Ibrahim: Ketuanan Melayu! … Melayu Mana?

BERTARUNG, lalu dikalahkan hingga meringkuk di penjara tak membuat Anwar Ibrahim surut dari panggung politik Malaysia. Pada Pemilu Mei 2013 silam, Anwar dikalahkan lagi, meski suara besar berhasil diraup barisan oposisi Pakatan Rakyat. Namun Anwar Ibrahim seperti tak pernah patah arang. Dia sempat berada di jajaran koalisi Barisan Nasional dan menjadi Wakil Perdana Menteri Mahathir Mohamad pada 1993. Sikapnya yang kritis, antara lain mengkritik praktik politik kroni dan korup di UMNO, membuatnya terjungkal dari kursi itu pada September 1998. Ironisnya, dia tak dibuat jatuh oleh tudingan makar. Dia diseret ke pengadilan atas kasus sodomi, dan juga korupsi, lalu dijatuhi hukuman penjara enam tahun. Pada 2000, dia kembali dituduh melakukan tindak serupa dan diganjar penjara sembilan tahun. Pada 2004, Mahkamah Konstitusi Malaysia menghapus tuduhan sodomi dan membebaskannya dari penjara. Kini Anwar Ibrahim tampak kian tajam. Dia terus menggugat “Ketuanan Melayu”, sebuah mantra politik UMNO sejak rezim Mahathir Mohamad berkuasa. Malaysia menjadi kurang toleran dengan kelompok etnis di luar Melayu, dan beragam protes untuk merebut kembali hak kewargaan (citizenship) pun kian mengemuka di negeri jiran itu. Lantas bagaimana bentuk politik yang digagas Anwar Ibrahim bagi masa depan Malaysia? Daniel Dhakidae, Arya Wisesa dan Nezar Patria dari Prisma berbincang dengan tokoh oposisi itu pada awal November lalu di Jakarta. 

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan