Prisma

Soekarwo: Neo-Marhaenisme dalam Globalisasi

SALAH satu aspek penting saat pembicaraan terfokus pada sosok Soekarno adalah gagasan besarnya tentang kemandirian bangsa Indonesia di bidang politik dan ekonomi. Sebagai salah seorang yang berada di garis depan dalam melawan apa yang diistilahkannya sebagai neokolonialisme dan neoimperialisme, Soekarno berargumen bahwa kemandirian Indonesia di semua bidang kehidupan akan terwujud jika mata rantai eksploitasi kapitalisme dunia dapat dipatahkan. Pada titik itulah keadilan sosial akan menghampiri kehidupan kaum marhaen. Kini, era Soekarno telah berlalu. Dunia pun telah berubah. Namun, gagasan dan cita-cita Soekarno masih kerap dikenang hingga saat ini.

Di tengah-tengah intensitas globalisasi yang melanda Indonesia dewasa ini, pemikiran Soekarno kembali diperbincangkan. Ada anggapan bahwa pemikirannya justru relevan di saat bangsa ini harus mengarungi nasib di tengah samudra globalisasi. Sejauh mana relevansi pemikiran Soekarno terhadap problematik dan tantangan yang tengah dihadapi bangsa ini? Pelajaran seperti apa yang dapat ditarik dari gagasan dan pemikiran Soekarno untuk kepentingan bangsa Indonesia kini dan esok?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut Prisma secara khusus mewawancarai Soekarwo, Ketua Umum Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA-GMNI) Periode 2010-2014 dan Gubernur Provinsi Jawa Timur (2009-2014). Wawancara dilakukan oleh Suhardi Suryadi dan Rahadi Teguh Wiratama. Dalam dialog itu, redaksi Prisma didamping oleh Prof Dr Hotman Siahaan (Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga, Surabaya). Berikut petikan wawancara dengan Soekarwo yang juga akrab disapa dengan nama Pakde Karwo.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan