Polisi dan Protes: Anatomi dan Perspektif Polisi terhadap Aksi Protes
Artikel ini membahas anatomi penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat kepolisian dalam penanganan aksi protes di Indonesia sepanjang tahun 2019-2025. Eskalasi
Luky Djani lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, Juni 1971. Menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Teknik Geodesi, Institut Teknologi Bandung (ITB, 1997). Semasa kuliah aktif dalam organisasi kemahasiswaan sebagai Koordinator Majelis Permusyawaratan Mahasiswa, Keluarga Mahasiswa ITB. Setelah itu, melanjutkan studi pascasarjana pada Public Policy Program di National University of Singapore. Sejak tahun 2000, bergabung dengan Indonesia Corruption Watch (ICW) dan berperan dalam berbagai koalisi masyarakat sipil di tingkat nasional maupun regional. Menempuh pendidikan lanjutan di Asia Research Center, Murdoch University, Australia, dan meraih gelar doktor di bidang Ilmu Politik dan Pemerintahan. Kembali ke Indonesia pada 2011. Sepulangnya ke Tanah Air, aktif sebagai peneliti dan pegiat sosial di Institute for Strategic Initiatives, dengan fokus pada kajian sosial, ekonomi-politik, kebijakan publik, populisme, dan gerakan sosial. Selain itu, juga berkontribusi dalam pengembangan wacana demokrasi dan tata kelola pemerintahan melalui riset dan advokasi kebijakan. Menulis berbagai karya ilmiah dan buku, termasuk buku bertajuk Dilemmas of Populist Transactionalism yang mengulas tantangan demokrasi di era populisme. Saat ini, mengabdikan diri sebagai dosen tetap pada Program S-2 Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, sekaligus tetap aktif dalam kegiatan penelitian dan advokasi masyarakat sipil.
Artikel ini membahas anatomi penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat kepolisian dalam penanganan aksi protes di Indonesia sepanjang tahun 2019-2025. Eskalasi
* Penulis berterima kasih kepada Dr Amalinda Savirani atas komentar dan masukan terhadap draf awal artikel ini. Perubahan sistem politik
Kebangkitan populisme pada era milenium ini telah memindahkan representasi politik menjadi politik identitas sebagai suatu fenomena global. Tulisan ini mencoba
Ikhtiar pemberantasan korupsi akan selalu menemui jalan terjal. Upaya memerangi korupsi juga akan berhadapan langsung dengan para koruptor yang berhimpun