Prisma

Picture of Vedi R. Hadiz

Vedi R. Hadiz

Vedi Renandi Hadiz adalah Professor of Asian Studies dan Redmond Barry Distinguished Professor di University of Melbourne, Australia. Selain Direktur Asia Institute dan Asisten Wakil Rektor Bidang Internasional di universitas yang sama, juga pernah menjadi Professor of Asian Societies and Politics dan Direktur Indonesia Research Programme Murdoch University, Australia, dan Associate Professor of Sociology National University of Singapore. Meraih gelar Sarjana Ilmu Politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia dan PhD (1996) dari Asia Research Centre, Murdoch University. Doktor yang dilahirkan tahun 1964 ini, selain kerap menulis artikel dalam berbagai jurnal ilmiah internasional, juga sejumlah buku, antara lain, Islamic Populism in Indonesia and the Middle East (2016); Localising Power in Post-Authoritarian Indonesia: A Southeast Asia Perspective (2010); Dinamika Kekuasaan: Ekonomi Politik Indonesia Pasca-Soeharto (2005); Workers and the State in New Order Indonesia (1997), yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia bertajuk Buruh dan Negara di Indonesia (2024); Politik, Budaya dan Perubahan Sosial (1992); bersama Richard Robison, Reorganising Power in Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Markets (2004); serta menyunting buku, antara lain, Empire and Neoliberalism in Asia (2006) dan bersama Daniel Dhakidae, Social Science and Power in Indonesia (2005). Pada 2017, Redaktur Senior Jurnal Prisma ini terpilih sebagai fellow pada Akademi Ilmu-ilmu Sosial Australia.

Menanggapi Krisis

Richard Robison, Kevin Hewison, Richard Higgot (eds.), Asia Tenggara pada tahun 1980-an: Politik Krisis Ekonomi (Sidney: Allen and Unwin, 1987),

Islam Menanggapi Perubahan Global

Zaman sudah banyak berubah sejak dunia memasuki abad ke-21, tetapi pemikiran sosial politik Islam, termasuk di Indonesia, tampak masih sulit

Memotret Indonesia Lewat Prisma

Prisma semula didirikan dan diterbitkan untuk menyambut berbagai kemungkinan yang sempat diharapkan terbuka bagi masa depan Indonesia di tahun-tahun awal

Krisis Ekonomi Dunia dan Indonesia

Finansialisasi ekonomi dunia yang dianggap model ekonomi paling mutakhir gagal menyebarkan kemakmuran yang merata. Kita tidak berpaling sama sekali dari